Laporan Liputan Kunjungan Kerja Sri Sultan HB X di Madiun

Tanggal Rilis :
Selasa, 25 November 2014
Penulis Artikel :
Satya Legowo
Lokasi :
Yogyakarta

Sultan : Kekuatan terdahsyat seorang pemimpin adalah keteladanannya.

YOGYAKARTA (23/11/2014) portal.jogjaprov.go.id. Karakter masyarakat Mataraman yang merupakan bagian dan keanekaragaman budaya di Jawa Timur yang telah menjawai masyarakat di 16 Kabupaten/Kota se Jawa Timur perlu dijaga dan dilestarikan bahkan dikembangkan agar nantinya dapat dan mampu menumbuh-kembangkan budaya,t dengan karakteristik santun, andap asor dan memilki integritas yang tinggi kepada kedaulatan Nusntara.

Sehubungan dan hal tersebut Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) Madiun menyelenggarakan Rapat Koordinasi dan Sarasehan yang bertemakan Pengembangan Seni Dan Budaya Mataraman sebagai Icon Bakoril Madiun .dengan menghadirkan Pembicara Utama / Keynote Speech Sri Sultan Hamengku Buwono X dengan judul Renaisans Budaya Mataraman, Konsep Inspiratif Akulturasi Budaya.

Menurut Ketua Panitia yang juga selaku Kepala Bakorwil Madiun Siswo Heroetoto.SH.M.Hum,tujuan diselenggarakannya Rakor dan Sarasehan ini adalah untuk meningkatkan koordinasi, konsultasi dan sinkronisasi antar unsur pimpinan/pejabat Daerah di 16 Kabupaten/kota se eks Karisidenan Madiun terhadap pengembangan seni dan budaya Mataraman yang menjadi icon Bakorwil Madiun,pengembangan potensi budaya mataraman agar mampu bertahan dan bersaiang serta terjaga kelestariannya serta untuk meningkatkan komitmen Pemerintah daerah untuk mengembangkan Seni Budaya Mataraman yang merupakan icon bakorwil Madiun tersebut.

Sarasehan yang diikuti 68 orang yang berasal dari dari Forimda Koordinator Bakorwil Madiun, Baupati/Walikota, Ketua DPRD se Eks Kasisidenan Madiun,Bakorwil II,III dan IV, Dinas Pariwisata Prov Jatim,Pejabat Badan,Dinas, Biro,Ketua Paguyuban Pawitandirogo,Unsur Pemerhati Budaya Jatim, Unsur Akademisi dan BUMN/BUMD se Bakorwil Madiun. Dan sasaran yang akan dicapai dari kegiatan ini adalah agar terjaga dan terpeliharanya seni dan budaya mataraman serta terlaksananya pengembangan potensi seni budaya Mataraman agar tetap eksis dan mampu bertahan atas pengaruh budaya asing maupun kemajuan tekhnologi dan informasi yang semakin berkembang.

Gubernur Jawa Timur Sukarwo dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Asisten IV Sekda Jatim Drs.Soekardo.M.Si menyatakan bahwa dalam pengembangan seni budaya Mataraman perlu dilakukan Kerjasama antar Pemerintah daerah khususnya pengembangan potensi seni budaya lokal yang bersumber dari Mataraman untuk saling mengisi dan melengkapi sehingga menjadi icon Bakorwil Madiun yang tidak dipunyai oleh daerah lain dan menjadi salah satu ciri khas kekayaan dan keanekaragaman seni budaya Mataraman yang ada di Jawa Timur maupun nusantara.

Sarasehan ini, tandas Gubernur Sukarwo diikuti oleh unsur pimpinan Daerah dan masayarakat se Provinsi Jatim dengan harapan peserta dapat memahami dan meningkatkan bahkan mengemabngkan Seni Budaya Mataraman menjadi icon yang mampu menggaet atau menjadi tujuan/destinasi wisata nusantara, manca negara, pergadangan, investasi bagi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dengan meningkatkan kemampuan dan daya saing produk serta Sumber Daya manusia.

Sementara itu Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam Orasi Budayanya selaku pembicara utama pada Sarasehan Seni Budaya Mataraman mengawalinya dengan mengutip Nulada laku utama, Tumraping wong tanah Jawi, Wong Agung ing Ngeksiganda....... Cuplikan Serat Wredotomo tersebut memberikan jaminan bahwa Raja adalah Pusat Keteladanan ( Exemplary Center ) asyarakat dan menjiwai nilai-nilai Budaya Mataraman, yang sejak embrio Mataram sudah ditunjukkan oleh penggagasnya. Karena memang kekuatan terdahsyat seorang pemimpin adalah keteladannya.

Dalam kesempatan itu pula Sri Sultan HB X menyatakan bahwa dlam dialogo Budaya dan Gelar Seni Jogja Semesta tahun 2007 di Bangsal Kepatihan Yogyakarta yang bertemakan Aktualisasi Filosofi Kepemimpinan Jawa dari Surat Piwulang dan Gelar Seni Tokoh Budaya Sardono menyatakan bahwa raja-raja Jawa, Sri Paku Buwono XII, Sri Mangkunegoro IV, Sri Paku Alam VIII dan Sri Sultan HB IX merupakan sosok transformator nilai. Secara kesejarahan, tampak Kasunan Surakarta Hadiningrat lebih fokus pada pengembangan olah-tari, Mangkunegaran sebagai pusat kapunjanggan dan susastra, Paku Alaman di bidang pendidikan, dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dalam hal kepemimpinan. Namun, di masa kini peran-peran , itu tandas Sultan HB X sudah saling bertukaran, karena adanya saling-silang budaya, dan proses interaksi sosial budaya yang luas.

Bahkan peran Sultan HB IX sebagai transformator nilai tandas Sultan HB X, Sardono punya analisa Jadi kalau kita melihat swargi Sri Sultan HB IX itu, kita tidak lagi melihat sebagai raja Jawa. Tetapi seorang yang mengokohkan kehadiran sebuah negara besar: Indonesia. Dan ini adalah transformasi kepemimpinan. Lanjut Sultan Indonesia kini memiliki program-program yang tidak bisa lagi dengan referensi masa silam. Namun, para pendahulu telah meletakkan dasar-dasaranya. Pada zaman Sri Sultan HB I diperlukan dasar disiplin: Sawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh. Orang Indonesia kala itu ucap Raja Kraton Yogyakarta membutuhkan disiplin. Disiplin adalah konsep integritas yang menguatkan ketatanegaraan dan bekal perlawanan terhadap penjajah.

Lebih lanjut dalam kesempatan paparannya Sri Sultan HB X mengatakan bahwa peran raja-raja Surakarta Ngayogyakarta ini dari segi kebudayaan sangat besar, mengingat Jawa Tengah-DIY- Jawa Timur menjadi ajang pengaruh isme-isme Global yang datang pasang-surut silih-berganti.

Terkait dengan saripati Budaya mataran Sri Sultan menambahkan bahwa jika merujuk makna kraton dari akar kata bahasa sansekerta kratu artinya kebijaksanaan. Maka budaya Mataraman yang dipancarakan dari keempat kraton yaitu Kasultanan Surakarta Hadiningrat, Mangkunegaran, Paku Alaman dan Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat ini penuh nilai-nilai kearifan dan menjadi pusat keteladanan masyarakat. Saripatinya tandas Ngarso Dalem termuat dalam Serat Centhini, Srat Sastra Gendhing, Serat Wulangreh, dan Serat Wedhatama sebagai sumber uatama acuan untuk ajaran etika, estetika, dan filsafat Jawa.

Sultan HB X dalam kesmepatan paparan tersebut mencontohkan pesan Sultan Agung dalam serat Sastra Gendhing kepada keturunannya dalam pupuh Sinom podo 3 yaitu :

Marma sagung trah Mataram,

kinen wignya tembung kawi.

Pupuh itu menurut nya menyiratkan pesan, agar Trah Mataram secara arif harus memetik hikmah yang terkandung dalam bahasa Kawi yang banyak memuat ajaran-ajaran filsafat untuk membentuk jatidiri Manusia Jawa dalam menjalankan laku Utama . Jatidiri adalah satu kata kunci paham Jawa, karena dimengerti dalam rangka pengalaman individual-mistik. Jadi jatidiri juga memiliki aspek sosial politik kebangsaan. Jatidiri dalam aspek sosial politisnya ini tidak mungkin diraih dengan asketis individual. Jatidiri macam ini hanya dapat diraih dengan asketis soasal.

Kultur Wedhama-Wulangreh yang mengajarkan wirya-arta-winasis, dan kepribadian kepada rakyat semestinya perlu direkonstruksi kembali dan diperbaharui kemasannya, agar mudah dipahamai masayarakat awam. Kemudian diletakkan pada asas kebersamaan membangun masyarakat untuk anggayuh gesang rahayu sehingga seluruh rakyat memiliki kehormatan,berjiwa patriot,makmur dan berpendidikan. Dengan demikian Wedhatama-Wulangreh bukan semata-mata mengajarkan tapa-brata dan keprihatinan terus menerus.

Menyinggung Tahta untuk rakyat Sultan mengatakan bukankah pesan Sri Sultan Hamengu Buwono IX mengatakan Tahta untuk Rakyat jelas telah membuktikan :laku tapa-ngame itu .

Menyangkut Renaisans Jawa Sultan HB X menjelaskan bahwa dalam sejarah Mataram mencatat Sultan Agung (1613-1645) sebagai gung binathara terbesar, Pada masanyalah kita menyaksikan puncak kejayaan Mataram yang terlihat dalam perform politik, luas wilayah dan besarnya kekuasaan. Kemampuannya mempertahankan kemerdekaan dan hubungan dengan berbagai kerajaan di luar Jawa, pengembagan kebudayaan Jawa dengan memadukan dengan kebuadayaan dari luar, penulisan Babad Tanah Djawi, pembangunan makam di bukit Imogiri, dan bahasa Jawa Krama-ngoko, telah membuktikan kebesarannya.

Renainsans Jawa pada jaman kapujanggan merupakan titik wal Jawa memperoleh kedaulatan spiritual ketika digalinya naskah-naskah lama yang berisi ajaran etika, dengan menggubah dan merevitalisasi isi dan bahasanya disesuaikan dengan zaman. Diterbitkannya berbagai karya sastra yang mengajarkan etika seperti: Serat Wulang Reh, Serat Wulang Sunu dan Serat Wulang Putri krya Sri Paku Buwono IV (1768- 1820). Demikian juga Serat Wedhatama karya Sri Manghkunegara IV (1853-1881) dan Serat Wulang Putra karta Nyi Adisara Pujangga Wanita masa Sri Paku Buwono IX (1861-1892).

Isi ajarannya berumber pada etika dan filsafat Jawa beserta larangan-larangannya dengan mengacu pada ajaran leluhur dinasti Mataram. Panembahan Senopati dan Sultan Agung urai Sultan dengan premis dasar : dunia ideal adalah dunia harmoni lahir dan batin.

Disamping kita dapat mentauladani pendahalu tersebut kita bisa mentauladani kepemimpianan Sang patih Gadjah Mada, yang menjalankan amanah Rakyaat dan menunaikan misi Tribhuana Tungga Dewi dan Hayam Wuruk, berpedoman antara lain pada ajaran Panca Titi Darmaning Prabhu dan asta-Dasa Kottamaning Prabhu.

Sudah menjadi keniscayaan tandas Sultan bahwa kebudayaan menjadi arus utama gerakan renaisans. Riset Global oleh Harvard Academy for International and Area Studies tahun 1990 an, menguatakan pendapat bahwa Budaya menentukan kemajuan dari pada setiap masyarakat, negara dan bangsa di seluruh dunia, baik ditinjau dari sisi politik, maupun ekonomi. Budaya adalah strategi bertahan hidup ( surviving) untuk menang (winning) dan itulah takaran dasar penilaian tinggi rendahnya suatu budaya.

Penanda zaman renaisans adalah kebangkitan sastra dan ilmu pengetahuan yang dikembangkan menjadi tekhnologi, untuk kemudian diaplikasikan pada indsutri yang pada akhirnya menciptakan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

Mengakhiri paparannya Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan untuk mewujudkan renaisans Budaya Matarman, perlu didukung oleh pemetaan Nilai Budaya. Kekayaan Budaya dan Keberagaman Budaya, Kerjasama Pengelolaan, dimana Bakorwil dapat menjadi satu aktor penggeraknya.

Dr.Purwadi.M Hum Dosen Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Yogyakarta (UNY) dalam menyampaikan matrinya yang berdjudul Menggali Nilai Luhuir Jatidiri Budaya Mataraman yang intisarinya antara lain : Pancaran wibawa budaya Mataraman yang cenderung bersifat cultural magic itu, karena banyak elit kerajaan yang selalu membangun citra diri sebagai dewa raja atau narendra gung binathara mbaundendha nyakrawati raja Jawa seolah-olah penguasa besar laksana dewata kahyangan yang mengendalikan hukum alam raya. Namun kekuasaann yang tampak absolut tersebut diimbangi pula dengn konsep keramahan dan kemurahan ambeg adil paramarta, bersikap adil serta murah hati dan memayuhayuning bawana, membuat keselamatan dunia adalah tugas utama seorang raja.

Sementara menyangkut Keteladanan dan keutamaan yang dihasilkan lebih lanjut Dr.Purwadi.M.Hum menyatakan bahwa para budayawan Jawa kiranya masih relevan untuk membina nilai kebangsaan dan kejuangan dalam rangka meningkatkan harkat dan martabat bangsa kita.

Sedangkan Budayawan yang mantan pimpinan kantopr Berita Antara, mantan Kepala Stasiun RRI yang juga berasal dari Kota Madiun Parni Hadi yang juga sebagai narasumber Sarasehan dengan mengangkat tema Rindu Pemimpin Kenabian ( Prophetic Leader) mengungkapkan bahwa bangsa Indonesia telah melahirkan sejumlah putra-putri terbaiknya yang memiliki sifat pemimpin yang patut diteladani dan dapat dijadikan rujukan. Satu diantara tokoh rujukan itu adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX,seorang raja dan pejuang. Sebagai raja yang berdaulat, atas keasadaran dan cintanya kepada Republik Indonesia, Beliau dengan suka rela memberikan wilayah kerajaan Yogyakarta menjadi bahagian dari NKRI yang diproklamirkan 17 Agustus 1945.

Sehingga Sarasehan Seni Budaya Mataraman di Madiun dianggap sangat tepat oleh Parni hadi mengingat pada bulan November ini bertepatan dengan hari Pahlawan dan di kota Madiun, Jawa Timur yang banyak menyimpan rekam jejak sejarah negeri ini. Madiun dan sekitarnya termasuk wilayah kerajaan Mataram dan sampai sekarang masih melestarikan budaya Mataraman. Juga tepat waktu karena sekarang sedang berlangsung untuk merevitalisasi budaya Jawa yang hasilnya dapat dikembangkan untuk mendukung Revolusi Mental.

Adapun setelah disampaikan pemaparan baik oleh pembicara utama Sri Sultan Hamengku Buwono X dan narasumber lainnya dengan Moderatur Mudji Rahrdja dari universits Madiun disepakati untuk dibentuk suatu Paguyuban untuk menyelenggarakan pertemuan secara pereodik terkait dengan penyelenggaraan Sarasehan Seni Budaya Mataraman se eks Karesidenan Madiun bersma Pemerintah DIY dan Sri Sultan HB X pun bersedia menjadi Pengarah dan pembinanya.

Mengakhiri Rakor dan Sarasehan Seni Budaya Mataram se Bakorwil eks karesidenan Madiun ditandai dengan penyerahan cinderamata oleh kepala Bakorwil Madiun kepada Sri Sultan HB X serta kepada nara sumber lainnya.

(kar/skm)

 

KOMENTAR

Belum ada komentar dalam artikel ini

Anda Harus Login untuk memberikan komentar

LOGIN USER | DAFTAR BARU

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan Pemerintah Daerah DIY dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Pemerintah Daerah DIY akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.

FILTER & PENCARIAN