Jogja Never Ending Asia

Tanggal Rilis :
Senin, 03 Oktober 2011
Penulis Artikel :
Administrator
Lokasi :
Yogyakarta

 

 

Latar Belakang

 

Pemikiran mengenai perlunya penciptaan citra diri (Brand Image), dimunculkan oleh Gubernur DIY pada awal tahun 2001, dimana pada saat itu daerah-daerah di Indonesia berlomba-lomba menciptakan semboyan atau slogan yang mewakili citra daerahnya, namun hanya dipahami oleh masyarakatnya sendiri. Daerah Istimewa Yogyakarta menciptakan citra yang merefleksikan atau menjadi indikator nilai (value indicator) bagi semua orang, baik di dalam maupun di luar negeri.

 

Terdapat 3 (tiga) hal yang mendasar alasan Yogyakarta menciptakan brand "Jogja Bever Ending Asia" yakni :

 

Pertama, krisis ekonomi yang berlanjut menjadi krisis multidimensional sejak beberapa yang silam telah membawa dampak yang serius terhadap kondisi politik, ekonomi dan sosial. Kondisi ini menyebabkan investor, trader, dan wisatawan merasa khawatir untuk berkunjung. Dalam kondisi yang penuh dengan ketidakpastian tersebut, Yogyakarta telah membuktikan sebagai kawasan yang relatif aman dan damai dengan semangat keharmonisan (harmony), saling menghormati (respect to each other) dan demokrasi. Kondisi yang kondusif dan menguntungkan ini harus senantiasa dipelihara sehingga image baik tentang Yogyakarta akan terus tertanam dibenak para investor, pelaku usaha dan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

 

Kedua, Globalisasi yang direfleksikan dalam istilah 4 I (industri, investasi, informasi dan individualis) telah mendorong munculnya persaingan antar negara, antar daerah untuk merebut pasar dunia. Dalam kondisi yang penuh persaingan seperti itu, untuk dapat memenangkannya, Yogyakarta perlu secara serius membangun posisi yang jelas (clear positioning), kekuatan yang berbeda/khas (strong differentiation) dan membangun brand image yang unik (brand image).

 

Ketiga, Yogyakarta telah menyadari bahwa marketing places akan mendorong tumbuhnya perdagangan, pariwisata dan investasi atau TTI (trade, tourism, investment) untuk mendorong pembangunan ekonomi. Yogyakarta juga melihat bahwa strategi membangun brand image sangatlah diperlukan, karena brand tersebut akan menjadi indikator nilai (value indicator) yang akan didukung oleh seluruh stakeholder di Yogyakarta.

 

 

Nilai-nilai Utama Brand

 

Yogyakarta dikenal sebagai pusat kebudayaan Jawa yang kaya akan warisan budaya. Disamping itu, Yogyakarta juga selalu terbuka untuk menerima kebudayaan nasional dan regional lainnya yang selaras, termasuk budaya global yang positip dan memperkaya kebudayaannya. Jadi, warisan budaya yang ada secara alami tidak bersifat eksklusif dan statis, melainkan inklusif dan dinamis dari waktu ke waktu. Yogyakarta juga selalu mendorong terjadinya dialog, interaksi dan akulturasi dengan dunia luas. Dengan demikian budaya Yogyakarta akan tumbuh dan berkembang bersamaan dengan proses pewarisan dan revitalisasi dari generasi ke generasi. Yogyakarta juga mendorong terjadinya proses modernisasi dan universalisasi mengikuti perkembangan serta kemajuan teknologi. Artinya, Yogyakarta akan merangkul dunia dan dunia secara antusias disambut di Yogyakarta (Jogja shall intimately embrace the world will enthusiascally welcome Jogja)

 

Jogja Never Ending Asia hanyalah titik awal dalam pengembangan Identitas Jogja. Visi, misi dan nilai utama brand tersebut harus secara konsisten dan kontinyu dikomunikasikan ke seluruh stakeholders di Yogyakarta, baik internal maupun eksternal. Secara internal segenap aparatur pemerintah/birokrat, usahawan dan masyarakat di seluruh Yogyakarta harus turut andil memiliki dan memahami makna tersebut dan menanamkan secara mendalam dalam pikiran, hati dan jiwa mereka. Sedangkan secara eksternal, usaha yang keras dan pantang menyerah harus dilakukan untuk membuat stakeholders luar, seperti para pelaku bisnis, wisatawan, investor, pengembang, dan organisator kelas dunia dalam memahami dan memberikan respek terhadap makna dari brand "Jogja Never Ending Asia".

 

Jika hal tersebut telah dapat diwujudkan, Jogja Never Ending Asia adalah aset riil yang memiliki andil cukup besar dalam pembangunan Jogja di masa depan.

 

Visi

 

Jogja Never Ending Asia mempunyai visi untuk menjadikan Yogyakarta to become the leading economic region in Asia for trade, tourism, and investment in five years (menjadi pemimpin/pelopor daerah-daerah Asia dalam bidang perdagangan, pariwisata, dan investasi dalam jangka waktu lima tahun ke depan).

 

 

Misi

 

Jogja Never Ending Asia mempunyai satu misi, yaitu untuk menarik, memberikan kepuasan dan mempertahankan para pelaku pasar, wisatawan, investor, pengembang dan para organisator kelas dunia untuk berusaha dan menanamkan investasinya di Yogyakarta. Untuk mewujudkan hal itu, Yogyakarta harus mengembangkan diri, menciptakan LIV, yaitu livability, yakni suasana damai dan nyaman, investability, yakni mampu digunakan untuk berinvestasi, dan visitability, yakni menarik dan berkesan untuk dikunjungi. Smeua upaya ini pada akhirnya dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat Yogyakarta.

 

KOMENTAR

Belum ada komentar dalam artikel ini

Anda Harus Login untuk memberikan komentar

LOGIN USER | DAFTAR BARU

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan Pemerintah Daerah DIY dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Pemerintah Daerah DIY akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.

FILTER & PENCARIAN