Jemparingan Gandhewa Mataram Mengandung Filosofi Satriya

Tanggal Rilis :
Kamis, 15 September 2016
Penulis Artikel :
sukarmi
Lokasi :

YOGYAKARTA. (15/9/2016). Jogjaprov.go.id. Menghidupkan kembali tradisi leluhur, yang dahulu diajarkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I. Itulah yang menjadi landasan terbentuknya Paguyuban Jemparingan Mataraman Gandhewa Mataram Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Hari ini (15/9), bertempat di Kagungan Dalem Bangsal Kemandhungan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Paguyuban Jemparingan Mataraman Gandhewa Mataram Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat tersebut mengadakan acara Peringatan Ulangtahun yang ke-3.

Jemparingan berarti busur panah, sementara gandhewa berarti anak panah. Jemparingan Gandhewa Mataram yaitu memanah secara tradisional gaya Mataram Yogyakarta. Jemparingan ini mempunyai keunikan, yaitu dilakukan dengan cara duduk bersila dan menyamping, kemudian memakai pakaian tradisional, dan ketika menarik gadhewa untuk dilepaskan menuju sasaran, tidak dengan nginceng.

KRT H. Jatiningrat, SH selaku pengajeng paguyuban ini menjelaskan bahwa Jemparingan Gandhewa Mataram ini mengandung nilai filosofi yaitu pamenthanging gandewa, pamanthenging cipto. Yaitu ketika menthang gandewa yang dipakai untuk membidik itu hati, bukan mata. Bisa dikatakan untuk mencapai sasaran, dengan sistem kira-kira. Hal ini dimaksudkan untuk melatih konsentrasi.

Ngarso Dalem, Sri Sultan Hamengku Buwono I, kala itu berharap agar para abdi dalem, sederek, keluarga, dan rakyat Ngayogyakarta Hadiningrat dapat menjadi Satriya, yang memiliki sifat sawiji (konsentrasi), greget (semangat), sengguh (jatidiri) dan ora mingkuh (bertanggung jawab).

Pada kesempatan ini, selain dilakukan acara sugengan juga dilaksanakan latihan jemparingan, yang bertempat di halaman Kagungan Dalem Bangsal Kemandhungan. Dibawah tenda, sejumlah abdi dalem kakung dan putri, sejumlah 25 orang duduk bersila di atas tikar. Kemudian setelah terdengar bunyi peluit sebanyak 3 kali, mulailah mereka menthang gandewa. Sasaran berjarak kurang lebih 35 meter. Target yang dituju ada 3 macam, yaitu molo (yang paling atas), jonggo (leher), baten (badan). Ketika mengenai bagian paling atas maka mendapat poin 3, kalau mengenai bagian leher mendapat poin 2 dan kalau hanya mengenai bagian badan, poinnya hanya 1. Tapi semua poin akan hangus jika kemudian gandhewa mengenai bola. Bagi yang mendapatkan poin 5, akan mendapatkan piala. 

Paguyuban ini mempunyai jadwal latihan tetap, yaitu pada hari Selasa Wage, Kamis Pon dan Sabtu Pahing. Pemilihan hari-hari tersebut dikaitkan dengan hari kelahiran Ngarso Dalem HB IX, X, dan hari berdirinya Karaton Ngayogyakarta.

GBPH Prabukusumo yang berkesempatan hadir pada acara ini berharap, agar tradisi Jemparingan yang telah ada sejak tahun 1934, namun sempat vakum lama dan baru mulai dilaksanakan lagi pada tahun 2013 ini dapat terus berlangsung. Maka setiap latihan selalu disiapkan piala bagi yang meraih prestasi, hal ini sebagai dorongan semangat bagi abdi dalem untuk terus mau giat berlatih. Perlu diketahui juga mayoritas abdi dalem anggota paguyuban yang ikut berlatih ini telah berusia sepuh. Salah satu diantaranya bernama Widyo Sukemi, yang tertarik mengikuti latihan untuk melatih kesabaran, konsentrasi dan berpartisipasi melestarikan budaya. (nier)

HUMAS DIY

 

KOMENTAR

Belum ada komentar dalam artikel ini

Anda Harus Login untuk memberikan komentar

LOGIN USER | DAFTAR BARU

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan Pemerintah Daerah DIY dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Pemerintah Daerah DIY akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.

FILTER & PENCARIAN