Sosialisasi Yogyakarta Warisan Budaya Dunia

Tanggal Rilis :
Senin, 31 Oktober 2016
Penulis Artikel :
sukarmi
Fotografer :
Arif N
Lokasi :
Monumen SOY

YOGYAKARTA (31/10/2016) jogjaprov.go.id – Penetapan Yogyakarta sebagai City of Philosophy bertujuan untuk melestarikan nilai luhur yang dapat diwariskan kepada masyarakat Yogyakarta, bangsa Indonesia, dan dunia. Salah satunya dengan menjadikan Yogyakarta sebagai Warisan Budaya Dunia (World Heritage).

Sosialisasi Yogyakarta Warisan Budaya Dunia diisi dengan kegiatan Jalan Sehat “Laku Lampah Sumbu Filosofi Jogja Istimewa”. Acara tersebut dihadiri oleh Wakil Gubernur KGPAA Paku Alam X, Kepala Dinas Kebudayaan DIY Drs.Umar Priyono, serta jajaran pejabat DIY. Kegiatan ini merupakan serangkaian acara yang diawali dengan Talk Show di Plasa Ngasem (24/10) yang kemudian dilanjutkan dengan acara jalan sehat (30/10) di Museum Serangan Oemoem 1 Maret. 

Mengacu pada konsep sumbu filosofi, perjalanan dimulai dari 2 (dua) titik start. Titik pertama dimulai dari Tugu Pal Putih dan titik kedua dimulai dari Panggung Krapyak, serta bertemu di titik 0 Km tepatnya di Monumen Serangan Oemoem 1 Maret.

Drs.Umar Priyono dalam sambutannya mengungkapkan bahwa agenda ini dibuat dengan maksud untuk sosialisasi akan diusulkannya Sumbu Filosofi sebagai salah satu budaya dunia. Berkat kecerdasan, kreativitas, dan kejeniusan Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengku Buwono I) dalam membangun Yogyakarta dengan konsep yang didasari oleh pemahaman akan filsafat kehidupan manusia yang tinggi, konsep filosofi jawa untuk mengingatkan manusia akan hakekat kemanusiaan itu sendiri, dan salah satu filosofi yang penting yaitu keselarasan antar hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dan manusia dengan alam. Inti tata kota ini melambangkan perjalanan hidup manusia sejak lahir hingga kembali menghadap Sang Pencipta diwujudkan dengan fisik bendawi berupa Tugu Pal Putih, Kraton Yogyakarta, dan Panggung Krapyak yang dihubungkan oleh garis lurus imajiner dan kemudian disebut Sumbu Filosofi.

Dalam sambutan Gubernur DIY yang dibacakan oleh Wakil Gubernur DIY disampaikan bahwa filosofi pembentukan pusat kota Yogyakarta yang ditumpukkan pada keberadaan Kraton akan menampilkan jati diri kota yang secara spesifik memancarkan citra Kota Yogyakarta. Filosofi ini menjadi dasar pondasi yang kuat berlandaskan pada sistem religi, sistem kebudayaan, dan sistem sosial serta interaksi antar ketiganya dalam tata lingkungan kehidupan pada jamannya.

Lebih lanjut Wakil Gubernur menyampaikan tentang beberapa hal. Setelah diterbitkannya undang-undang keistimewaan kemudian dipaparkannya konsep-konsep yang meliputi 3 pilar, yaitu budaya, pariwisata, dan pendidikan. Terkait dengan budaya, sumbu filosofi ini salah satunya, bagaimana kita memiliki nila-nilai lebih dibandingkan daerah-daerah lain karena adanya pengaturan kota dengan dasar-dasar yang telah ditetapkan sehingga adanya korelasi terhadap apa yang telah diamanahkan pada undang-undang.

Harapan kedepan untuk pemerintah dan masyarakat yaitu adanya pemahaman bahwa sebenarnya warga Yogyakarta asli hanya sekitar 40% saja dan lainnya adalah warga pendatang dari daerah luar Yogyakarta sehingga perlu adanya kerjasama juga antara warga pendatang agar mampu mengetahui konsep-konsep melalui warga asli Yogyakarta. (gap)

HUMAS DIY.

KOMENTAR

Belum ada komentar dalam artikel ini

Anda Harus Login untuk memberikan komentar

LOGIN USER | DAFTAR BARU

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan Pemerintah Daerah DIY dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Pemerintah Daerah DIY akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.

FILTER & PENCARIAN