Pemerintah Pastikan Perlindungan Masyarakat Terdampak Bencan...

  19

  Sunday, 30 March 2025

Pemerintah Pastikan Perlindungan Masyarakat Terdampak Bencana Hidrometeorologi Cepat dan Menyeluruh

Yogyakarta (30/03/2025) jogjaprov.go.id – Pemerintah Daerah DIY melalui Dinas Sosial dan Tagana (Taruna Siaga Bencana) telah mengupayakan berbagai penanganan bencana hidrometeorologi yang melanda di sejumlah wilayah kabupaten/kota di DIY, akibat hujan berintensitas tinggi yang mengguyur pada Jumat (28/03). Bencana banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang yang terjadi di berbagai daerah DIY ini berdampak pada rusaknya ratusan rumah, terputusnya akses jalan, dan ratusan warga yang harus mengungsi.

Sejak Jumat (28/03), pemantauan terhadap seluruh aktivitas penanganan telah dilakukan oleh Dinas Sosial beserta Tagana DIY untuk memastikan respons yang cepat dan tepat. Berdasarkan laporan dari Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) Tagana DIY, baik Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul, Kulon Progo, Gunungkidul, maupun Sleman mengalami dampak cukup parah.

Kepala Dinas Sosial DIY, Endang Patmintarsih pun telah mengerahkan segenap jajaran melalui Kepala Bidang Perlindungan Sosial, Sigit Alifianto, untuk mendukung respons penanggulangan bencana yang terjadi. Dalam hal ini, Dinas Sosial secara khusus memastikan bahwa pemenuhan hak pengungsi dan perlindungan bagi masyarakat terdampak bencana terlaksana secara cepat dan tepat.

“Di Kabupaten Bantul, Dinas Sosial dan Tagana setempat telah mengirimkan logistik serta membantu kerja bakti bersama warga. Sementara itu, di Kulon Progo, Dinas Sosial PPPA dan Tagana mendirikan dapur umum di Balai Kalurahan Margosari dan Masjid Al Fitrah, yang menjadi lokasi pengungsian, serta menyalurkan bantuan logistik bagi korban bencana. Di Kabupaten Gunungkidul, 15 personel Tagana bersama bupati turut serta dalam kerja bakti dan distribusi logistik. Sedangkan di Sleman, Dinas Sosial dan Tagana telah melakukan asesmen untuk menentukan langkah penanganan lebih lanjut,” jelasnya.

Sebagai bentuk dukungan bagi para masyarakat terdampak bencana, bantuan yang telah didistribusikan mencakup kasur, selimut, paket sandang, matras, serta permakanan. Selain itu, dukungan logistik dari Kampung Siaga Bencana (KSB) Siaga Gayamharjo, Prambanan, Sleman, juga telah disalurkan, termasuk terpal, beras, gula pasir, teh, minyak goreng, saus, kecap, sarden, dan bubur instan untuk memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi.

“Kondisi terkini pasca bencana menunjukkan bahwa proses kerja bakti pembersihan akibat banjir telah dilakukan oleh warga masyarakat dengan bantuan para relawan. Kegiatan ini bertujuan untuk mempercepat pemulihan lingkungan dan memastikan aksesibilitas di daerah terdampak kembali normal,” terang Endang.

Sejumlah unsur terlibat aktif dalam upaya tanggap darurat dan pemulihan ini di antaranya, yaitu Tagana dari lima wilayah di DIY, Tim Kampung Siaga Bencana (KSB) dari berbagai daerah seperti Manggala Jati, Rekso Bumi, Bima Sakti (Bantul), dan Gayamharjo (Sleman). Pun Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD, TNI, Polri, PMI DIY, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), relawan lainnya, dan warga masyarakat.

Akibat hujan deras yang mengguyur DIY pada Jumat (28/03), dilaporkan terjadi tanah longsor, robohnya atap rumah, serta tertutupnya akses jalan di beberapa titik Kota Yogyakarta. Longsornya tebing di Umbulharjo mengancam rumah kos dan mengganggu akses jalan, sementara talud yang longsor di Wirobrajan menutup jalur utama. Selain itu, sebuah atap rumah di Gondokusuman roboh akibat cuaca ekstrem, dan tanah longsor di Umbulharjo juga merusak salah satu rumah warga.

Sebagai respons cepat, masyarakat dan relawan telah melakukan kerja bakti untuk membersihkan material longsor dan membantu warga terdampak. Pemerintah Kota Yogyakarta juga terus memantau situasi serta mengimbau warga untuk tetap waspada terhadap potensi bencana susulan.

Sementara itu, Kabupaten Bantul mengalami 42 titik bencana, yang terdiri dari 24 kejadian tanah longsor, 13 banjir, 3 pohon tumbang, serta 2 kerusakan infrastruktur berupa jalan ambrol dan jembatan putus. Tanah longsor yang terjadi di berbagai wilayah seperti Wukirsari, Imogiri, Dlingo, dan Selopamioro, menimpa rumah warga, menutup akses jalan, serta mengancam permukiman.

Banjir juga merendam daerah di Kabupaten Bantul seperti Pajangan, Pleret, Jetis, dan Imogiri, yang kini telah surut dan dalam tahap pembersihan. Infrastruktur terdampak meliputi jembatan putus di Kedungpring, Bawuran, serta jalan ambrol di Banjarharjo dan Dodogan. Selain itu, pohon tumbang di tiga lokasi menghambat akses dan membahayakan warga. Seluruh titik terdampak telah mendapat respons cepat dari masyarakat dan relawan melalui kerja bakti, sementara upaya penanganan serta pengamanan terus dilakukan untuk pemulihan kondisi.

Di Bantul bencana ini setidaknya menyebabkan 281 kepala keluarga (KK) atau 804 jiwa terdampak dan sempat mengungsi. Sebagian besar pengungsi telah kembali ke rumah masing-masing, termasuk 65 KK (128 jiwa) di Salaman, Karangtalun, Imogiri; 20 KK (80 jiwa) di Cebolan, RT 1, Imogiri; 25 KK (70 jiwa) di Bubutan, RT 5, Imogiri; serta 160 KK (480 jiwa) di Numpukan, Karangtengah, Imogiri. Seluruh titik terdampak juga telah mendapat respons cepat dari masyarakat dan relawan melalui kerja bakti, sementara upaya penanganan serta pengamanan terus dilakukan untuk pemulihan kondisi.

Sedangkan di Kulon Progo, enam kejadian tanah longsor terjadi di berbagai titik di Girimulyo, dengan longsoran sepanjang 5-10 meter dan tinggi mencapai 6 meter yang merusak rumah warga serta menutup akses jalan. Selain itu, satu kejadian banjir terjadi di Karangtengah Kidul, Margosari, Pengasih, serta satu pohon jati tumbang di Gulurejo, Lendah, yang sempat menghambat akses sebelum berhasil disingkirkan.

Infrastruktur yang terdampak meliputi talud rumah sepanjang 10 meter di Ngroto dan bangketan rumah di Jatimulyo, menyebabkan kerusakan lebih lanjut pada permukiman. Akibat bencana ini, 22 KK atau 69 jiwa terpaksa mengungsi, dengan 8 KK (23 jiwa) berlindung di Kalurahan Margosari, dan 14 KK (46 jiwa) di Masjid Al Fitrah Margosari. Penanganan telah dilakukan melalui kerja bakti bersama masyarakat dan relawan di berbagai titik terdampak, sementara proses pemulihan terus berjalan untuk memastikan keamanan dan kenyamanan warga.

Di Gunungkidul, hujan lebat yang mengguyur pada Jumat (28/03) mengakibatkan banjir dan tanah longsor di puluhan titik. Sebanyak 36 rumah di berbagai wilayah terendam air akibat luapan sungai dan selokan, termasuk 12 rumah di Wiyoko Selatan, 10 rumah di Wiyoko Utara, serta 4 rumah di Toboyo Timur dan Wiyoko Tengah, Plembutan. Selain itu, tiga rumah di sebelah barat AMIGO juga terdampak genangan. Banjir meluas hingga merendam sejumlah fasilitas umum, seperti ruang kelas SDN Kadang Rejek 2, Taman Pancuran, serta Jalan Raya Wareng-Wonosari yang tidak dapat dilalui. Infrastruktur mengalami kerusakan parah, termasuk jembatan penghubung Pampang-Plembutan dan Jembatan Ngrancang yang meluap.

Tanah longsor menutup akses jalan di Gedali, Beji, Patuk hingga 90% serta menimbun Jalan Kabupaten di Tambakromo, yang menghubungkan Tambakromo-Jambedawe. Dua talud pekarangan rumah longsor dengan luas hingga 20 meter, menutup jalan lingkungan dan mengancam permukiman. Di semua titik terdampak, masyarakat dan relawan telah melakukan kerja bakti untuk membersihkan material longsor dan banjir, sementara proses pemulihan masih terus berlangsung.

Adapun di Sleman, sejumlah titik mengalami longsor dan kerusakan infrastruktur. Tanah longsor terjadi di Rejosari, Prambanan, serta tebing setinggi 6 meter longsor di Lemahbang, Gayamharjo, yang berdampak pada permukiman warga. Dua talud juga mengalami longsor parah, yakni di Watu Gudeg dengan panjang 5 meter dan tinggi 4 meter serta di Umbulsari B, Sumberharjo, dengan panjang 6 meter dan tinggi 8 meter. Kerusakan ini mengganggu akses jalan dan mengancam beberapa rumah warga. Warga bersama relawan telah melakukan kerja bakti untuk membersihkan material longsor dan memperbaiki infrastruktur yang terdampak. (Han/Cbp)

 

Humas Pemda DIY

Berita Terbaru

Garis