Berita Terkait


Polling

Apakah website ini membantu?

Apakah website ini membantu?

Ya: 63904 suara dari 81505 suara
78%
Tidak: 17601 suara dari 81505 suara
22%

Jogja adalah Simbol Masa Lalu dan Simbol Masa Depan

24 April 2019 - 00:00

Yogyakarta (24/04/2019) jogjaprov.go.id – Pemerintah Daerah DIY Peringatan Isra Mi’raj 2019 dengan tema Peningkatan Iman dan Taqwa Manusia Jogja Menjaga Kesatuan dan Keberagaman di Bangsal Kepatihan, Yogyakarta, pada rabu (24/04) pagi. Pada kesempatan ini Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X diwakili Staf Ahli Gubernur Bidang Sosial Budaya dan Kemasyarakatan Drs. Tri Mulyono, MM.

Dalam sambutan Gubernur DIY yang dibacakan oleh Tri Mulyono, menyampaikan bahwa hanya Nabi Muhammad SAW yang diberi keistimewaan mengalami Isra’ Mi’raj. "Untuk itu, sudah seharusnya kita sebagai umatnya bisa mengadopsi lessons learnt dari kejadian tersebut," katanya.

Tri Mulyono menjelaskan, "dan cukuplah bagi kita, menurut kalam yang dapat kita pegangi bahwa shalat adalah mi’rajnya orang beriman. Bagi seorang yang beriman, shalat bukan perbuatan remeh. Sebaliknya, shalat melesatkan seorang hamba dalam suatu lompatan quantum, meninggalkan kerendahan jasadiah menuju ketinggian rohaniah.”

Dalam sambutannya, Kepala Kanwil Kementerian Agama DIY, Drs.H. Edhi Gunawan, M.pdi  menyampaikan kegiatan peringatan hari besar Islam merupakan kegiatan yang sangat religius dan harus dijaga keberlangsungannya. Ditambahkannya, melalui semangat keberagamaan yang dewasa ini tumbuh di berbagai kalangan masyarakat perlu di tompang dengan kesepakatan keilmuan agama secara profesional. "Hal ini penting mengingat, agama menjadi momen yang memperngaruhi sosial, budaya dan ekonomi di negara kita,” imbuhnya.

Sedangkan pada pengajian, Kyai H Ahmad Muwawiq menyampaikan, Israq Mi'raj mengembalikan manusia ke sejarah masa lalunya yang untuk mengulang masa depan yang memahami masa lalu. "Tanpa masa lalu orang tidak akan mempunyai masa depan, dan Jogja adalah simbol masa lalu dan simbol masa depan yang kita harapan untuk kekuatan yang hanya satu-satunya tersisa dari sejarah masa lalu itu ada di Jogja. Jangan sampai kita gagal memiliki masa depan gara-gara tidak merawat masa lalu," ujarnya. (*/sa)

 

HUMAS DIY