Berita Terkait


Polling

Apakah website ini membantu?

Apakah website ini membantu?

Ya: 8680 suara dari 9237 suara
94%
Tidak: 557 suara dari 9237 suara
6%

Awali Pengajuan Gelar Pahlawan Nasional KGPAA Paku Alam VIII Tim Nyekar ke Makam Raja Girigondo

01 September 2019 - 18:27

KULON PROGO (01/09/2019)jogjaprov.go.id. –  Gusti  Raden Mas  Sularso  Kuntosuranto yang dilahirkan tanggal 10 April 1910 dengan condrosengkolo “ Mumbul Tejaning  Manggala Yudha “ tahun Jawa 1870  adalah putra dari Paku Alam VII dengan permaisuri Gusti Raden Ayu Retno Purwoso  binti Paku Buwono X. Di tubuh beliau mengalir darah dari Kasunanan Surakarta dan darah dari Kasultanan Yogyakarta yang  kemudian menyandang gelar Kanjeng Gusti Adipati Aryo Prabu Suryodilogo sejak tanggal 4 September 1936. Selanjutnya pada tanggal  12 April 1937  beliau dinobatkan menjadi  KGPAA Paku alam VIII dan selisih 3 tahun kemudian yaitu pada 18 Maret 1940, penobatan Sri Sultan HB IX dan selanjutnya keduanya menjadi sosok “loro-loroning atunggal“ atau duet kepemimpinan KGPAA Paku Alam VIII dan Sri Sultan HB IX itu yang dikenal dengan Dwi Tunggal yang menentukan nasib masa depan negeri masing-masing akan tetap menjadi negara kerajaan dalam penjajahan Belanda.

Kepemimpinan Paku Alam VIII sejak 9 tahun dari penobatannya hingga memasuki fase Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, dalam momentum strategis ini berhasil dilampaui dengan penuh kebijakan sehingga berhasil mengambil keputusan politik bersama Sri Sultan HB IX secara jitu sehingga kebijakan politiknya disebut sebagai  “ condition sine qua non “ yaitu situasi  kondisi yang mengakibatkan yang tak terelakkan, khususnya dalam menentukan arah angin untuk tetap berpihak kepada kepentingan kekuasaan “ status quo” kerajaan atau demi kepentingan kemaslahatan bangsa dan negara yang lebih besar. Akhirnya kedua raja yaitu Raja Kadipaten Paku Alaman dan Raja Kraton Yogyakarta bersepakat tanggal 19 Agustus 1945 menyatakan mendukung kemerdekaan dan tunduk pada NKRI (dari Buku Haryadi &Sudomo Sunaryo). Dan tinta emas pun ditorehkan dengan terbitnya  Amanat 5 September  1945 yang disusul amanat yang ditandangani secara bersama-sama. Lalu lahirlah Amanat 30 Oktober 1945 yang secara lebih rinci mengatur jalannya pemerintahan Yogyakarta diserahkan melalui DPR (sistem demokrasi) serta lahirnya UU Nomor 3 tahun 1950 .

Sejak itulah Paku Alam VIII sosok pejuang kemerdekaan RI bersama Sri Sultan HB IX khususnya dalam mengintegrasikan raja-raja nusantara menjadi satu kesaatuan yang utuh dalam naungan NKRI sehingga melahirkan ethnonsionalisme, yaitu lahirnya kesatuan etnis /  budaya sebagai akar nasionalisme ke-Indonesiaan kita yang dibingkai semangat Bhineka Tunggal Ika  .

Begitu besarnya jasa Sri Paduka Paku Alam VIII yang wafat pada tanggal 11 September 1998 dalam perjuangan kemerdekaan tersebut maka masyarakat DIY mengusulkan Gelar Pahlawan Nasional kepada Pemerintah Pusat yang proses rangkaian pengajuan usulan tersebut  tadi pagi  (Minggu,01/09) Tim Penggagas Gelar Pahlawan Nasional Bagi Sri Paduka Paku Alam VIII dan mengawalinya  dengan melakukan ziarah/nyekar ke  Makam Paku Alam VIII dan makam Paku Alam V, VI dan Paku Alam VII serta Paku Alam IX di makam raja-raja Pakualaman Girigondo, Temon Kulonprogo yang dipimpin Kepala Dinas Sosial DIY Drs.Untung Sukaryadi .MM beserta anggota lainnya.

Tim Pengusul Gelar Pahlawan Nasional di makam Girigondo yang didamping Pengageng  Pambudidoyo Pariwisata Puro Pakualaman KPH Indrokusumo diterima sekaigus yang memimpin doa dalam ziarah/nyekar.

Kepala Dinas Sosial DIY Drs.Untung Sukaryadi .MM kepada reporter jogjaprov.go.id disela-sela ziarah mengatakan bahwa yang menginiasi pengajuan Gelar Pahlawan Nasional Bagi Paku Alam VIII yaitu antara Kerjasama Dinas Sosial DIY serta dari  Prof. Jaka dari UGM sebagai wujud penghargan bagi beliau atas perjuangan yang tidak dipungkiri  sebagai tokoh nasional difacto seperti itu dan dejure diajukan sebagai proses “Pengajuan Gelar Pahlawan Nasional Sri Paduka ini Kerjasama Dinas Sosial dengan Universitas Gadjah Mada di pimpin Profesor Jaka selaku ketua Tim nya.“  Harapannya dengan ziarah tim ini dimudahkan dalam mengumpulkan data-data untuk proses pengusulan yang kemudian tanggal 5 September 2019 ini kita akan mengadakan seminar regional Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional bagi Sri Paduka  Paku Alam VIII dan tahun 2020 Seminar Nasional diharapkan pada tanggal 17 Agustus 2020 Gelar Pahlawan Nasional Paku Alam VIII sudah selesai dan diberikan Pada Sri Paduka.

Sementara itu Putra Sri Paduka Paku Alam VIII, KPH Indrokusumo mengapresiasi diajukan Sri Paduka untuk mendapatkan  Gelar Pahlawan Nasional oleh masyarakat, keluarga sangat berterima kasih dan menyambut baik mudah-mudahan usulan tersebut berhasil  sehingga akan lebih memperkuat kedudukan DIY sebagai Daerah Istimewa.

Sedangkan Pengageng Makam  Raja-raja Puro Pakualaman Drs.H.M.Wasiludin  sangat mendukung di usulkannya Sri Paduka Paku Alam VIII mendapatkan Gelar Pahlawan Nasional mengingat perjuangannya bersama dengan Sri Sultan HB IX sangat besar bagi NKRI ketika Ibukota RI pindah ke Yogyakarta, beliau berdua yang memfasilitasi jalannya Pemerintahan RI di Yogyakarta sehingga NKRI tetap berjalan dengan baik. (krn).

HUMAS DIY