Berita Terkait


Polling

Apakah website ini membantu?

Apakah website ini membantu?

Ya: 10419 suara dari 11196 suara
93%
Tidak: 777 suara dari 11196 suara
7%

Dialog Interaktif Para Pejuang dan Penjaga Keistimewaan DIY

02 September 2019 - 08:41

Yogyakarta (31/08/2019) jogjaprov.go.id - Dalam rangka peringatan penetapan Undang-undang Keistimewaan Yogyakarta ke-7 tahun, Dinas Kebudayaan DIY menyelenggarakan acara Peringatan Penetapan Undang-Undang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, yang diisi dengan dialog interaktif tentang Keistimewaan Yogyakarta.

Peringatan Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2019 yang ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Prof. Soetaryo selaku Parampara Praja ini dilaksanakan di Ragam Kriya Yogyakarta pada Sabtu (31/08) malam, dengan mengangkat tema "Lima Puluh Tahun Wajah Daerah Istimewa Yogykarta di Masa Depan untuk Mewujudkan Kemuliaan Martabat Manusia Yogyakarta untuk Indonesia dan Dunia".

"Lahirnya undang-undang keistimewaan DIY ini sebagai penguatan atas entitas keistimewaan Yogyakarta terutama dalam urusan kebudayaan, bukan suatu tahap akhir dari sebuah perjuangan melainkan merupakan tahap awal perjuangan masyarakat Yogyakarta menatap masa depannya untuk berjuang mewujudkan kehidupan masyarakat yang gemah ripah loh jinawi," ungkap Aris Eko Nugroho, SP,MSi selaku Kepala Dinas Kebudayaan DIY, pada saat menyampaikan sambutannya.

"Tantangan terbesar bagi seluruh rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta justru adalah Undang- Undang Keistimewaan DIY. Bagaimana kita menggambarkan wajah Yogyakarta sebagai Daerah Istimewa untuk 100 tahun kedepan, pemikiran dari setiap stakeholder yang ada, dan output dan desain visioner untuk masih tetap Daerah yang istimewa" lanjutnya.

Dialog interaktif yang membahas tentang keistimewaan ini menghadirkan pembicara para pejuang keistimewaan Yogyakarta, di antaranya oleh Sekartaji Ayuwangi Purbapuri selaku pendiri Yayasan Rumah Kasih Sekartajiayuwangi, Yanto Sumantri selaku Presiden Info Cegatan Jogja, serta Heri Santoso, S.S., M.Hum selaku peneliti pada Pusat Studi Pancasila (PSP) UGM.

“Saya berharap apa yang kami lakukan ini bisa menjadi sesuatu untuk para penerus bangsa ini dalam lima puluh tahun ke depan. Semoga  bukan kami saja, tapi kita semua bisa berkerjasama dalam mewujudkan kemuliaan martabat masyarakat Yogyakarta” tutup Sekartaji. (asy,lt)