Berita Terkait


Polling

Apakah website ini membantu?

Apakah website ini membantu?

Ya: 8510 suara dari 9037 suara
94%
Tidak: 527 suara dari 9037 suara
6%

SP 2020 Langkah Awal Siapkan Generasi Maju

10 September 2019 - 12:39

Sleman (10/09/2019) jogjaprov.go.id - Sensus penduduk bertujuan memperbaharui data kependudukan secara menyeluruh tentang jumlah, komposisi, distribusi dan karakteristik penduduk Indonesia. Karenanya, Sensus Penduduk (SP) 2020 dapat dijadikan langkah awal mempersiapkan generasi maju bagi bangsa Indonesia ke depan.

Hal ini diungkapkan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X pada Pembukaan Rapat Teknis Nasional (Rateknas) Kepala BPS Kabupaten/Kota 2019 di Hotel Alana Yogyakarta pada Selasa (10/09). Dikatakan Gubernur DIY, SP 2020 menjadi momen penting karena pada 2030-2040 Indonesia diprediksi akan mengalami masa bonus demografi.

“Di masa itu nanti, usia produktif Indonesia mencapai 64% dari total jumlah penduduk yang diproyeksikan mencapai 290juta jiwa. SP 2020 ini juga menjadi jalan agar Indonesia bisa memetik manfaat maksimal dari bonus demografi,” ujar Sri Sultan.

Menurut Sri Sultan, ketersediaan sumber daya manusia yang melimpah juga harus diimbangi dengan peningkatan kualitas kompetensinya. Hal ini untuk menghadapi keterbukaan pasar tenaga kerja. Untuk DIY, bonus demografi telah tercapai pada 2015 lalu, meski saat itu Kabupaten Kulon Progo dan Gunungkidul belum memgalami bonus demografi.

Diungkapkan Sri Sultan, baru pada tahun 2018, semua wilayah DIY mengalami bonus demografi, yakni Kulon Progo sebesar 66,99%, Bantul 69,10%, Gunungkidul 67,19% Sleman 68,84%, dan Kota Yogyakarta 71,06%. Untuk DIY dengan jumlah penduduk 3.631.015 jiwa, rerata generasi muda mencapai 68,5%.

“Jumlah penduduk usia produktif yang melimpah ini harus didorong agar mampu memggeliatkan roda perekonomian, serta mesin penggerak pertumbuhan ekonomi. Jangan sebaliknya, melahirkan generasi tidak kompeten karena miskin kreativitas dan inovasi. Generasi produktif adalah modal bagi kita menuju Indonesia Emas 2045,” paparya.

Menghadapi SP 2020, Sri Sultan pun memberikan masukan agar sebaiknya jajaran BPS mengawalinya dengan upaya menyamakan persepsi langkah dan strategi di seluruh daerah. Untuk menyamakan persepsi, Rateknas dinilai menjadi forum yang tepat.

“Dalam hal ini, Pemda DIY beserta Pemerintah Kabupaten/Kota siap bersinergi dan berpartisipasi dalam SP 2020 menuju data kependudukan yang lebih baik lagi. SP 2020 bukan hanya milik BPS, tapi seluruh rakyat bangsa ini, maka perlu didukung,” tegas Sri Sultan.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, Suhariyanto mengatakan, sesuai amanat negara, sensus penduduk dilakukan sekurang-kurangnya 10 tahun sekali. Alasan dilakukannya sensus penduduk ialah untuk merekam secara langsung data penduduk, guna menyediakan data penduduk de facto dan de jure, serta untuk menyediakan parameter demografi dan proyeksi penduduk.

“SP 2020 ini dilakukan juga untuk Indonesia ke depannya. Tentu kita perlu memikirkan bagaimana Indonesia di masa yang akan datang. Hal ini sebagai bentuk tanggung jawab kita bagi generasi ke depan,” imbuhnya.

Diungkapkan Suhariyanto, pada SP 2020 akan diberlakukan sistem pendataan baru yakni metode kombinasi. Jika sebelumnya metode konvensional yang digunakan BPS, maka untuk SP 2020 dikombinasikan dengan metode online.

“Untuk daerah yang dapat dijangkau jaringan internet, akan kami berlakukan sensus online sebagai bentuk sinergi pihak pendata dan penduduk yang didata. Selebihnya, daerah yang belum bisa dijangkau internet akan kami data secara konvensional,” jelasnya. (Rt)

HUMAS DIY