Berita Terkait


Polling

Apakah website ini membantu?

Apakah website ini membantu?

Ya: 8510 suara dari 9037 suara
94%
Tidak: 527 suara dari 9037 suara
6%

Beksan Lawung Keraton Yogyakarta Pukau Masyarakat Luwu

10 September 2019 - 23:43

Palopo (10/09/2019) jogjaprov.go.id –  Event Tahunan Festival Karaton Nusantara (FKN) XIII yang berlangsung dari tanggal 7-13 September 2019 yang dipusatkan di Kedatuan Luwu menghadirkan keanekaragaman dan koleksi yang dimiliki keraton se-nusantara. Keragaman tersebut dikemas dengan kegiatan pameran, dialog budaya, musyawarah agung, festival kuliner, pentas seni budaya, pesta rakyat, gala dinner juga diselenggarakan peragaan busana dan pentas tari. Dari beragam agenda tersebut, peragaan busana dan pentas tari merupakan agenda yang paling menyedot perhatian publik. Adapun kedua agenda tersebut dilaksanakan pada Selasa dan Rabu (10-11/09) sore hingga malam di halaman Istana Kedatuan Luwu, Kota Palopo, Provinsi Sulawesi Selatan.

Dalam pentas peragaan busana Karaton Yogyakarta menampilkan 10 jenis pakaian Bregada Prajurit Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, diantaranya Prajurit Wirobrojo, Prajurit Surokarso, Prajurit Bugis dan Dhaeng. Hal spesial dari peragaan busana ini adalah dengan menggunakan iringan musik khas Sulawesi Selatan. "Ada dua bregada prajurit yang berasal‎ Sulawesi Selatan yaitu Bregada Dhaeng dan Bugis. Sehingga, iringan musiknya menggunakan musik khas Sulawesi, jadi penonton sangat terkesan," ujar Penghageng KPH Notonegoro, Penghageng KHP Kridhomardowo Keraton Yogyakarta.

Untuk pementasan tarinya, Keraton Yogyakarta menghadirkan tarian Lawung Ageng, sebuah tarian yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X. Tak seperti biasanya, dalam kesempatan tersebut, tarian ini ditarikan oleh 36 penari. Lawung sendiri sejatinya adalah nama sebuah tombak yang digunakan dalam perlombaan Watangan, atau kegiatan adu ketangkasan bermain tombak yang dilakukan oleh prajurit Keraton Yogyakarta pada jaman dahulu. Pementasan tarian ini sendiri cukup menyedot perhatian dan antusias dari masyarakat sekitar. Di tengah acara, Datu Luwu ke-40, Andi La Maradang Mackulau Opu tu Bau, memberikan cinderamata berupa keris kepada KPH Notonegoro. 

Delegasi dari Jogja yang lainnya yakni Puro Pakualaman, juga turut berpartisipasi dalam agenda peragaan busana dan pementasan tari. Adapun tarian yang akan dipentaskan adalah Beksan Floret, yang diciptakan oleh KGPAA Paku Alam IV karena terinspirasi dari kegiatan bermain anggar. Berbeda dengan Keraton Yogyakarta yang menggelar pementasan pada Selasa (10/09), Puro Pakulaman akan menggelar peragaan busana dan pementasan tari pada Rabu (11/09) sore waktu setempat. 

Keikutsertaan Keraton Yogyakarta danPuro Pakualaman dalam FKN XIII ini menunjukkan Keistimewaan DIY. ‎Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY Drs. Aris Eko Nugroho SP., MSi., seusai menghadiri Gala Dinner di Istana Kedaatuan Luwu mengungkapkan, "Keraton Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman merupakan sumber utama dari Keistimewaan DIY. Keikutsertaan keduanya juga merujuk pada Amanat Perdais no. 3 Tahun 2017 tentang Pemeliharaan dan Pengembangan Objek Kebudayaan, khususnya tradisi luhur," ujarnya.

Oleh karenanya, Dinas Kebudayaan DIY mendukung penuh keikutsertaan keduanya pada FKN XIII. "Kegiatan FKN menurut tidak hanya sekadar ajang silaturahmi para penjaga budaya namun bisa memotivasi keraton seluruh nusantara agar berperan aktif dalam menjaga dan merawat kebhinnekaan serta mencegah disintegrasi bangsa di daerahnya masing-masing melalui budaya," jelas Aris.

Segala sajian budaya yang ditampilkan dalam gelaran FKN ini sendiri juga merupakan sebuah sarana meperkenalkan kebudayaan yang dimiliki Indonesia dan menjaga kerukunan antarkeraton di seluruh nusantara. Masyarakat luas juga dapat berpartisipasi dan menyaksikan segala kegiatan yang digelar tanpa harus melakukan registrasi terlebih dahulu. [krn/vin] 

HUMAS PEMDA DIY