Berita Terkait


Polling

Apakah website ini membantu?

Apakah website ini membantu?

Ya: 8510 suara dari 9037 suara
94%
Tidak: 527 suara dari 9037 suara
6%

Bahas Pengembangan Prodi, PDPI Beraudiensi dengan Wagub DIY

11 September 2019 - 20:49

Yogyakarta (10/09/2019) jogjaprov.go.id – Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) cabang Yogyakarta bertemu dengan Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X, untuk bersilaturahmi serta mempererat kerjasama antara PDPI dengan Pemda DIY pada Selasa (10/09) pagi di Gedhong Pare Anom, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta. Hadir sebagai perwakilan PDPI yakni Dr. Yusrizal Djam’an Saleh Sp.P, Dr. Munawar Gani Sp.P, Dr. Yuni dan Dr. Ardorisa dari PDPI.

Permasalahan paru di Indonesia tidak semakin berkurang tetapi semakin bertambah dikarenakan tingginya tingkat polusi udara. Dengan bertambahnya permasalahan kesehatan paru, ternyata penanganan di Indonesia masih kalah dibandingkan dengan Amerika Latin. Dari data WHO, idealnya satu dokter paru untuk 100.000 jiwa sedangkan di Indonesia, satu dokter paru untuk 200.000 jiwa.

“Karena itu, saya sepakat dan menyemangati jika di RSUD akan ada dokter ahli paru. Menurut saya, lesson study itu lifetime, selesainya adalah ketika sudah meninggal. Jika berbicara penting atau tidak tentunya semua itu penting, tapi hal apa yang dapat kita raih maka kita raih dahulu,” ungkap Sri Paduka.

Audiensi ini sendiri merupakan inisiasi dari Kolegium Pulmonologi Indonesia Pusat untuk meminta dukungan Gubernur dan Wakil Gubernur DIY akan pendirian Prodi Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi di Fakultas Kedokteran Gajah Mada, serta menjadi narahubung dengan pihak RSUP Dr. Sardjito agar berkenan menjadi pusat pendidikan selain di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro, Klaten. Hal ini mengingat bahwa RS. Sardjito merupakan rumah sakit terbesar kedua dalam hal pendidikan dan tempat pendidikan dokter pertama untuk Fakultas Kedokteran UGM.

Syarat sebuah rumah sakit dapat dijadikan sebagai pusat pendidikan idealnya terdapat 5 orang dokter spesialis paru di rumah sakit yang bersangkutan, dan sekurang-kurangnya ada satu orang spesialis paru disetiap rumah sakit. Adapun Perguruan Tinggi yang menghasilkan spesialis paru ada 6 Perguruan Tinggi yaitu di Medan, Padang, Jakarta, Solo, Surabaya dan Malang.

“Yang jelas Kanjeng Gusti menjadi motivator kami, dan kami menjadi lebih semangat lagi dengan masukan-masukan beliau,” tambah Dr. Munawar Gani, SP.P.

“Nantinya kami juga punya rencana membuat program CPET (Cardiopulmonary Exercise Testing) gabungan antara treadmill dengan kemampuan mengambil oksigen diharapkan calon-calon atlet dan polisi untuk dites dengan program tersebut,” ujar Dr. Yusrizal.

“Harapan saya kita tetap bersilahturahmi dan mari kita berdoa bersama-sama untuk kedepannya agar dapat menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat,” tutup Sri Paduka. (Du/In)

Humas Pemda DIY