Berita Terkait


Polling

Apakah website ini membantu?

Apakah website ini membantu?

Ya: 10548 suara dari 11340 suara
93%
Tidak: 792 suara dari 11340 suara
7%

November, Sosialisaisi Pembangunan Tol Yogya - Solo - Bawen Dimulai

25 Oktober 2019 - 09:45

 

Yogyakarta (24/10/2019) jogjaprov.go.id – Sosialisasi proyek pembangunan jalan tol Solo - Yogya - Bawen akan dilaksanakan pada minggu kedua Bulan November 2019 mendatang. Nantinya sosialisasi ini akan dilakukan secara bertahap dengan memprioritaskan sosialisasi trase Yogya – Solo.  

Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang DIY, Drs. Krido Suprayitno, S.E, M.Si., menyampaikan hal tesebut pada acara Jumpa Pers Pra Sosialisasi rencana pembanguan Jalan Tol Jogja - Bawen dan Jogja - Solo, Kamis (24/10) di Ruang Media Center Humas Pemda DIY, Gedung Baleworo, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta. Menurut Krido, prioritas tersebut berdasarkan kompleksitas Yogya - Solo yang berdinamika tinggi dan melewati perkotaan.

“Sosialisasi Tol Jogja-Solo akan kami mulai pada November minggu kedua di Kecamatan Kalasan. Karena keluasan lahan terdampak, maka khusus Kecamatan Kalasan, sosialisasi akan dilakukan dua kali. Setelah separuh perjalanan melakukan konsultasi publik, baru akan kita mulai sosialisasi kembali pada Trase Jogja-Bawen,” papar Krido.

Krido menyampaikan, penentuan trase atau koridor jalan tol baik Yogya - Solo maupun Yogya - Bawen berdasarkan arahan dari Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dan hasil olahan data-data lapangan oleh Dirjen Bina Marga. Sesuai dengan program pengembangan sistem prasarana dan jalan dalam Program Strategi Nasional (PSN), disebutkan bahwa jalan tol adalah bagian jalan bebas hambatan. Sesuai dengan Perda DIY tahun 2019-2039, tol dimaksud sudah memiliki dasar hukum. Ini disebutkan dalam Pasal 12 ayat 2 huruf C, jalan tol yang akan ada di DIY meliputi Yogya - Solo, Yogya -Bawen, Yogya - Kulon Progo, dan Cilacap - Yogya.

”Tentunya penetapan RTRW Provinsi sesuai dengan penetapan RTRW Nasional sehingga jalan bebas hambatan (tol) masuk program strategi nasional,” jelas Krido.

Krido yang didampingi oleh Kabag Humas, Ditya Nanaryo Aji, SH, Mec.Dev. ini menyebutkan, tujuan penataan ruang DIY adalah untuk mewujudkan DIY sebagai Pusat Pendidikan, Budaya dan daerah tujuan wisata kelas dunia. Hal ini dilakukan dengan mengedepankan keterpaduan antar sektor, berbasis mitigasi bencana dan keistimewaan tata ruang DIY, melalui penataan ruang yang berkelanjutan.  

Sesuai dengan data dari Dirjen Bina Marga, pembuatan tol Jogja-Solo membutuhkan lahan ± 1.744.068 m2 (± 22,36km) yang masih harus dikonkritkan lagi oleh Dinas Pertanahan dan Tata Ruang dari keluasan tersebut dalam 2906 bidang. Untuk tol Jogja-Bawen, membutuhkan lahan  ± 467.026m2 (± 10,9km) yang juga harus dikonkritkan lagi oleh Dinas PTR dari keluasan tersebut dalam 722 bidang.

“Dari data yang ada kami berkerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Sleman, Tol Jogja-Solo akan melewati 6 kecamatan, 14 desa, sedangkan Tol Jogja-Bawen 5 kecamatan, 8 desa tapi dengan catatan khususnya di Kecamatan Tempel akan di cek kembali,” ujar Krido.

Pada pelaksanaan Lahan Pertanian Berkelanjutan (LP2B), wilayah terdampak pembangunan Tol Jogja - Solo sejumlah 8,64 hektar, sedangkan wilayah terdampak dari Tol Jogja - Bawen sejumlah 26,84 hektar. Sehingga Kabupaten Sleman yang menjadi wilayah terdampak adalah  ± 35,48 hektar. Karena hal ini bersangkutan dengan jaringan jalan yang ada di DIY, sehingga sangat bermanfaat bagi pengembangan Kawasan Perkotaan Yogyakarta (KPY). (teb/au)

Humas Pemda DIY