Berita Terkait


Polling

Apakah website ini membantu?

Apakah website ini membantu?

Ya: 10548 suara dari 11340 suara
93%
Tidak: 792 suara dari 11340 suara
7%

Muhibah Budaya di Wonosobo

26 Oktober 2019 - 23:15

Wonosobo  (26/10/2019) Jogjaprov.go.id – Jika membuka lembaran sejarah, terbukti terentang benang merah yang menyambung hubungan Yogyakarta dengan Wonosobo. Pada masa perang Diponegoro, Wonosobo merupakan wilayah basis pertahanan melawan Belanda. Di bawah kepemimpinan Kyai Muhammad Ngarpah yang berhasil meraih kemenangan, sehingga beliau diberikan gelar Tumenggung Setjonegoro. Hal demikian disampaikan Gubernur DIY, Sultan Hamengkubuwono X pada Muhibah Budaya di Kabupaten Wonosobo pada Sabtu (26/10).

Di pendopo Kabupaten Wonosobo, Sultan mengungkapkan lebih lanjut bahwa, jejak-jejak sejarah tersebut tidak hanya tentang keprajuritan saja, tetapi juga dilacak dari peninggalan budaya berupa seni tari, busana dan tembang macapat. Oleh karenanya, Muhibah Budaya ini tidak sekedar kunjungan biasa, tetapi bermakna merajut persahabatan untuk merangkai kembali kesejarahan Mataram. Selain itu  juga dimaksudkan untuk menggali, menguji dan mengkaji serta berbagai gagasan melalui workshop yang dilanjutkan dengan pergelaran budaya.

Dikemukakan pula oleh Sultan bahwa, Bung Karno mengajarkan “belajarlah dari sejarah”. Karena bangsa yang lupa akan sejarahnya adalah bangsa yang hilang. Dan rakyat yang tanpa masa lalu adalah rakyat yang tiada memiliki lagi jiwa semangat kejuangan. Belajar dari sejarah bukan berarti untuk hidup di masa lalu, tapi guna memetik hikmah dari pelajaran sejarah.

Bila tidak belajar dari sejarah kita akan mengulang “pelajaran yang sama”, bahkan mungkin harus memulainya dari awal, tandas Sultan. Oleh sebab itulah, sejarah selalu ditulis, dan menuliskan sejarah merupakan suatu ikhtiar melawan lupa.

Dalam kesempatan tersebut Sultan mengapresiasi Muhibah Budaya ini yang dikemas dengan tujuan merajut Budaya Mataraman dari Yogyakarta dan Wonosobo untuk memperkaya khasanah budaya Indonesia.

Sementara itu Bupati Wonosobo, Heru Purnomo dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa, dengan Muhibah Budaya dan kehadiran Sultan beserta Permaisuri di Wonosobo akan semakin mempererat hubungan dan jalinan silaturahim serta kerjasama antara Pemerintah Daerah kedua wilayah disegala bidang.

Selain itu, dengan rangkaian Muhibah Budaya akan mampu memotivasi, khususnya bagi para seniman, budayawan, para pemerhati dan organisasi kesenian untuk mengembangkan kreasi dan inovasinya sekaligus mengaktualisasikan diri melalui aktivitas prestasi seni.

Heru berharap agar dengan kegiatan ini akan pula mampu mengembangkan kesadaran bersama guna melestarikan dan menjaga nilai luhur budaya yang ada, dengan berbasis kearifan lokal serta menjadikan salah satu langkah awal ikatan budaya berbasis sejarah. Sehingga identitas Wonosobo akan jelas semakin terlihat di tengah masyarakat yang menjunjung tinggi budaya adiluhung.

Muhibah budaya ini berlangsung  pada tanggal 24 hingga 26 Oktober dengan beberapa agenda daintaranya gala dinner, pertunjukkan tari, workshop serta pergelaran wayang kulit gagrak Ngayogyakarta.

Acara ini dihadiri pula oleh GKR Hemas, Sekda DIY, Staf Ahli Gubernur, Para Pimpinan OPD DIY, Paniradya Pati, anggota Parampara Praja DIY, kerabat Kraton Yogyakarta serta undangan.(teb)