Berita Terkait


Polling

Apakah website ini membantu?

Apakah website ini membantu?

Ya: 10548 suara dari 11340 suara
93%
Tidak: 792 suara dari 11340 suara
7%

Dalam Berkesenian Tetap Harus Ada Kaidah Estetika

28 Oktober 2019 - 15:30

 

Yogyakarta (28/10/2019) jogjaprov.go.id – Saat berkesenian, semua itu bergantung pada integritas. Apapun itu jika lepas dari religiusitas dan menggunakan rasa, pasti lepas dari permasalahan suku, ras, dan agama. Namun tetap punya kesamaan visi, misi, dan cara pandang. Hal ini diungkapkan Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X saat menerima audiensi Panitia Biennale Jogja di Gedhong Pare Anom, Komplek Kepatihan, Yogyakarta pada Senin (28/10).

Disampaikan juga oleh Wagub DIY bahwa, kualitas dalam kegiatan seni ini tetap harus ditingatkan. “Di dalam berkesenian itu tetap harus ada kaidah estetika. Memang merdeka secara jiwa tetapi etika juga tetap dipakai,” ujar Sri Paduka.

Biennale Jogja sendiri merupakan event seni rupa internasional yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali oleh Dinas Kebudayaan DIY dan diorganisasi oleh Biennale Yogyakarta. Tahun ini menandai edisi kelima Biennale Jogja Equator, yang akan berkerjasama dengan 52 seniman dan kelompok dari berbagai wilayah dan kota di Asia Tenggara.

Pada tahun ini, Biennale Jogja mengambil tema “Indonesia Meets South East Asia”, yang diselenggarakan dari tanggal 20 Oktober hingga 30 November 2019 dengan beberapa venue, yaitu Jogja Nasional Museum (Wirobrajan), Taman Budaya Yogyakarta (Gondomanan), Rumah Ketandan Kulon 17 (Ketandan, Kel. Ngupasan, Kec. Gondomanan), dan Kampung RW 10 Jogoyudan (Jogoyudan, Kel. Gowongan, Kec. Jetis).

Kegiatan ini fokus pada gagasan tentang “pinggiran” yang tidak sekedar mengacu pada ide tentang tempat, namun lebih penting tentang subyek atau komunitas yang hidup di dalamnya, yaitu subyek yang tidak mendapat manfaat dan menderita karena struktur sosial ekonomi atau politik. (au/teb)

HUMAS PEMDA DIY