Berita Terkait


Polling

Apakah website ini membantu?

Apakah website ini membantu?

Ya: 10548 suara dari 11340 suara
93%
Tidak: 792 suara dari 11340 suara
7%

Wastra Tradisional Jadi Jati Diri Bangsa

05 November 2019 - 13:52

Sleman (05/11/2019) jogjaprov.go.id - Kain dan tekstil merupakan kebutuhan hakiki manusia. Dalam filosofi Jawa, dikenal sesanti Ajining Raga Ana Ing Busana yang menyiratkan wastra sebagai bahan utama busana memiliki peran penting dalam menunjukan jati diri pemakainya.

Demikian sambutan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X yang dibacakan oleh Pj Sekertaris Daerah DIY, Ir. Arofa Noor Indriani, M.Si., dalam acara Opening Ceremony 7th ASEAN Traditional Textile Symposium pada Selasa (05/11) di Ballroom Kasultanan, Hotel Royal Ambarrukmo, Yogyakarta.

“Sebagai warisan budaya sekaligus produk peradaban, wastra tradisional tentu memiliki filosofi-filosofi luhur yang tervisualisasi dalam corak, keragaman perpaduan warna dan pada proses pembuatannya. Keragaman inilah yang menjadikan wastra tradisional menjadi menarik dan harus dilestarikan keberadaannya,” jelas Arofa.

Arofa menambahkan, Pemda DIY juga mengapresiasi upaya tim Traditional Textiles Art Society of South East Asia yang telah mengemas rangkaian acara simposium ini dengan berbagai kegiatan yang memiliki esensi edukasi, kreativitas, dan rekreatif. Simposium ini juga diharapkan dapat semakin menguatkan jalinan persahabatan di antara negara-negara anggota ASEAN.

“Wastra-wastra dari berbagai negara juga dapat mendukung upaya pencapaian tingkatan hidup dalam filosofi Hamemayu Hayuning Bawana, yang berarti memperindah keindahan dunia. Dari aneka corak indah wastra ini juga bisa membuat persaudaraan regional akan semakin menguat, sehingga kesejahteraan regional akan terwujud di ASEAN,” imbuhnya.

Acara ini dihadiri juga oleh Raja Permaisuri Agong Malaysia, Tunku Azizah Aminah Maimunah Iskandariah dan President of Traditional Textile Arts Society of South East Asia (TTASSEA), GKBRAA Paku Alam. Simposium kali ini mengangkat tema ‘Embracing Change, Honoring Tradision’. Acara ini dihadiri oleh delapan negara ASEAN dan berbagai negara mitra lain seperti Amerika Serikat, Australia, India, Kanada, Korea Selatan, Rusia, Selandia Baru, China, dan Uni Eropa.

Ketua 7th ASEAN Traditional Textile Symposium, GKR Hemas usai pembukaan simposium mengatakan, acara simposium tekstil yang juga dihadiri oleh perwakilan dari negara-negara di luar ASEAN ini merupakan acara yang bermanfaat untuk makin mengenalkan tekstil Indonesia ke dunia. Menurut GKR Hemas, semakin banyak kita memberikan nuansa Indonesia ke luar negeri akan semakin baik.

Kan acara ini bergiliran di seluruh negara ASEAN setiap tahunnya. Dan setiap periode memang ada perubahan tema dan juga desain dari tiap tekstil yang dipamerkan. Dan seperti yang kita lihat semuanya mengikuti perubahan zaman,” imbuh GKR Hemas.

GKR Hemas juga mengungkapkan, faktor bahan baku menjadi tantangan utama bagi proses produksi tekstil nusantara ke depannya. Ia menilai jika ada baiknya pemerintah bisa turut serta menyediakan bahan baku bagi industri tekstil, tidak hanya bahan kain, tapi juga pewarna alami atau lilin malam untuk produksi batik.

“Dengan mencukupinya bahan baku, pengrajin tekstil juga pasti terdorong untuk terus melakukan produksi dan akan lebih berkonsentrasi pada kualitas tekstil. Dan seperti tema simposium tahun ini, kita akan tetap mengikuti perubahan zaman, tapi harus tetap menghargai tradisi,” imbuhnya. (Rt/Au)

HUMAS DIY