Berita Terkait


Polling

Apakah website ini membantu?

Apakah website ini membantu?

Ya: 10419 suara dari 11196 suara
93%
Tidak: 777 suara dari 11196 suara
7%

SOP Penyelamatan di YIA Perlu Segera Ada

08 November 2019 - 14:49

Sleman (08/11/2019) jogjaprov.go.id - Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Drs. Kadarmanta Baskara Aji mengatakan, standar operasional prosedur (SOP) untuk penyelamatan jika terjadi bencana di Yogyakarta International Airport (YIA). Dengan SOP yang jelas dan tetap, siapapun yang berada di bandara saat bencana bisa segera menyesuaikan diri untuk penyelamatan.

Hal ini disampaikan Aji dalam Rapat Koordinasi Percepatan Kegiatan Mitigasi di Kawasan Bandar Udara Internasional Yogyakarta di Hotel Hyatt Yogyakarta pada Jumat (08/11). Aji mengatakan, persoalan pelatihan simulasi bencana gempa maupun tsunami di kawasan masih menjadi persoalan tersendiri. Hal ini dikarenakan pengunjung bandara selalu berganti-ganti tiap harinya.

“Tentu kita tidak mudah melakukan simulasi. Ini berbeda kalau yang diajak simulasi penduduk setempat, tentu bisa tiga bulanan dan bisa menjadi hafal. Karena itu perlu ada SOP bagaimana semua bisa menyelamatkan diri dan menyelamatkan orang lain tapi tidak takut datang ke Yogyakarta,” ujarnya.

Aji pun mengungkapkan, sejak awal pembangunan YIA sudah dilakukan identifikasi dan upaya antisipasi terkait potensi bencana. Ide awal pembangunan YIA memang diawali peristiwa gempa 2006 dan kejadian tsunami di beberapa daerah. “Jadi awalnya, titik sentral kita bagaimana mengantisipasi bandara ini agar bisa tahan gempa dan tsunami,” imbuhnya.

Diungkapkan Aji, Pemerintah Daerah (Pemda) DIY sejak awal sudah mengantisipasi, bersama stakeholder lain yang kaitannya dengan kebencanaan, agar upaya mitigasi di YIA bisa dilakukan. Dan dengan lokasi YIA yang rawan bencana, bagi Aji justru mendatangkan keuntungan tersendiri.

“Ternyata ada keuntungannya juga, BMKG jadinya memasang alat-alat canggih di DIY. Dan manfaatnya bukan hanya untuk bandara tapi juga masyarakat DIY secara keseluruhan dan Jawa Tengah di sekitarnya,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala BMKG, Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D., mengatakan, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam proses memasang lima macam sensor sebagai alat antisipasi potensi bencana di kawasan YIA. Kelima macam alat ini difokuskan sebagai alat mitigasi bencana gempa dan tsunami.

“Pemasangan alat-alat ini memang sudah kami rencanakan sejak awal, bahkan sebelum pembangunan di mulai. Tentu tujuannya agar bandara ini aman dan penyelamatan bisa lebih maksimal jika terjadi bencana,” ungkapnya.

Rita mengatakan, kelima macam alat sensor yang dipasang ini adalah warning receiving system atau sistem menerima informasi gempa bumi dan tsunami, intensitimeter atau alat untuk mengetahui intensitas gempa bumi dan tingkat kerusakan akibat gempa bumi.

Sensor ketiga ialah accelerograph atau alat untuk mencatat guncangan permukaan tanah yang sangat kuat dan mengukur percepatan tanah, seismograph sebagai alat untuk mencatat gempa atau getaran yang terjadi di permukaan bumi, serta earthquake early warning system atau sistem yang memberikan peringatan dini gempa bumi.

“Dalam hal bencana setiap hitungan detik menjadi sangat berart, apalagi dalam hal evakuasi. Jadi berbagai upaya kami lakukan,” imbuhnya. (Rt)

HUMAS DIY