Berita Terkait


Polling

Apakah website ini membantu?

Apakah website ini membantu?

Ya: 10548 suara dari 11340 suara
93%
Tidak: 792 suara dari 11340 suara
7%

Dalam Hitungan Dua Menit Gunungan Lanang Ludes Diperebutkan

10 November 2019 - 12:57

Yogyakarta (10/11/2019) jogjaprov.go.id-Iring-iringan pasukan atau narakarya yang diawali dengan dua ekor gajah mengiringi satu pareden atau gunungan melewati Jl. Trikora menuju jalan Malioboro. Dengan irama musik yang khas oleh prajurit Kraton Yogyakarta, Gunungan Lanang Garebeg Maulud diusung dari Keraton Yogyakarta menuju halaman Kepatihan untuk diserahkan kepada Sekretaris Daerah DIY pada Minggu (09/11).

Di halaman Pendapa Wiyoto Projo, Gunungan Lanang diserahkan oleh utusan Sri Sultan Hamengku Buwono X dari Keraton Yogyakarta, KRT. Rinto Isworo dan diterima oleh Sekda DIY Drs. Baskara Aji.

Dalam kesempatan tersebut Baskara Aji menghaturkan banyak terima kasih kepada Sinuwun Sultan HB X dan mendoakan semoga Sultan beserta garwo serta para putra dan para sentono dalem selalu dalam lindungan Allah SWT, serta diberi kesehatan, keselamatan, panjang umur serta dijauhkan dari segala mara bahaya.

Setelah pembacaan doa yang dipimpin oleh H Iswantoro, SH, MKes., gunungan yang ditempatkan di lapangan depan masjid Sulthoni itupun ludes diperebutkan oleh masyarakat dalam hitungan dua menit.

Adanya Garebeg Maulud diselenggarakan untuk memperingati hari kelahiran (maulid) Nabi Muhammad SAW yang jatuh tepat pada tanggal 12 Rabiulawal. Dan untuk tahun 2019 ini bertepatan dengan Tahun Je 1953.

Bulan Rabi'ulawal disebut juga bulan Mulud dalam kalender Jawa-Islam. Itulah sebabnya garebeg yang diselenggarakan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, disebut Garebeg Mulud. Sebenarnya tanggal 12 Rabiulawal mempunyai dua arti penting dalam riwayat hidup Sang Nabi, karena diyakini oleh umat Islam bahwa Nabi Muhammad SAW lahir dan wafat pada tanggal dan bulan yang sama.

Tradisi memperingati hari lahir Sang Nabi ini baru tumbuh setelah agama Islam berkembang luas ke negara-negara lain di luar jazirah Arab. Hari lahir Nabi Muhammad SAW bukanlah hari raya resmi Islam, sebab Islam hanya mengenal dua hari raya, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Perayaan hari lahir Nabi Muhammad SAW sebagai upacara kerajaan ini dipelopori oleh Kesultanan Demak, dari zaman ke zaman dilestarikan oleh para raja Jawa yang kemudian dikenal sangat populer sebagai Garebeg Mulud. (teb)

 

Humas DIY