Berita Terkait


Polling

Apakah website ini membantu?

Apakah website ini membantu?

Ya: 10548 suara dari 11340 suara
93%
Tidak: 792 suara dari 11340 suara
7%

Pengelolaan Air Berbasis Masyarakat dalam Hamemayu Ajining Tirta

02 Desember 2019 - 12:30

Sleman (02/12/2019) jogjaprov.go.id - Air sebagai anugerah Tuhan, tidak pernah lepas dari sisi kehidupan manusia. Dalam konteks pengelolaan air, sesanti kehidupan Hamemayu Ajining Tirta dapat diartikan sebagai upaya manusia memanfaatkan potensi air, sekaligus menjaga kelestarian sumber dayanya.

Hal ini diungkapkan Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda DIY, Tri Saktiyana saat membacakan sambutan Gubernur DIY pada Senin (02/12). Tri mewakili Gubernur DIY pada acara Peresmian Program Nasional Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) III Tahun 2019 di Lapangan Klangkapan, Kalurahan Margoluwih, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman.

Tri mengatakan, sisi spiritual, budaya, sosial masyarakat dan ekonomi, tidak akan lepas dari peran air sebagai sumber penghidupan sekaligus pengawal peradaban manusia. “Untuk itu, penting bagi kita untuk melibatkan masyarakat dan kearifan lokal dalam pengelolaan dan pemberdayaan air,” imbuhnya.

Dikatakan Tri, setiap manusia diwajibkan memelihara alam untuk bisa melanjutkan keturunan, sehingga wajib hukumnya bagi manusia untuk menjaga, merawat dan melestarikan bumi dan seisinya. Tri pun menambahkan, Pemerintah Daerah (Pemda) DIY pun bangga dan bergembira atas selesainya Pembangunan Sarana Prasarana Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat di Kabupaten Sleman.

“Semoga sarana ini dapat dimanfaatkan dengan optimal dan terpelihara dengan baik, sehingga pada akhirnya sarana ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi hajat hidup orang banyak,” paparnya.

Sementara itu, Bupati Sleman, Sri Purnomo mengatakan, Pamsimas di Kabupaten Sleman telah dimulai sejak tahun 2017 dengan lima kalurahan sasaran di Kapanewon Prambanan. Di tahun 2018, program ini terus meningkat menjadi 10 kalurahan dan di tahun 2019 program Pamsimas ini diselenggarakan di 25 kalurahan.

Di 2019, Kapanewon yang terlibat meliputi Ngemplak, Turi, Ngaglik, Pakem, Berbah, Kalasan, Sleman, Seyegan, Cangkringan, Moyudan, dan Kecamatan Tempel. Selanjutnya, Sri menuturkan, untuk anggaran program berasal dari APBN sebesar Rp 4,9miliar, dari APBD Kabupaten Sleman Rp 1,75miliar, dan dana dari APBDes sebesar Rp 950juta.

“Selain itu, ada pula dana dari kelompok masyarakat yang totalnya Rp 381,4juta. Pembangunan Pamsimas ini diperuntukkan untuk membangun jaringan air bersih di 25 kalurahan yang dimanfaatkan oleh 6.261 Kepala Keluarga atau sebesar 27.750 jiwa.Fasilitas Pamsimas ini juga dimanfaatkan untuk membangun sarana cuci tangan di 132 SD dan 38 TK,” imbuhnya.

Diungkapkan Sri, keberhasilan setiap program yang dicanangkan tidak semata-mata didasarkan pada besarnya anggaran yang diberikan. Karena yang terpenting adalah komitmen dari para pelaksana, termasuk kepala desa, perangkat desa, kelompok keswadayaan masyarakat, satuan pelaksana, serta masyarakat.

“Masyarakat merupakan kunci utama suksesnya program Pamsimas ini. Dengan komitmen yang kuat tentu dapat meningkatkan kinerja dan fungsi sarana ketersediaan air bersih di Kabupaten Sleman ini,” paparnya. (Rt)

HUMAS DIY