Berita Terkait


Polling

Apakah website ini membantu?

Apakah website ini membantu?

Ya: 58841 suara dari 74927 suara
79%
Tidak: 16086 suara dari 74927 suara
21%

UGM Minta Dukungan Kembangkan Ventilator

07 Juli 2020 - 13:28

Yogyakarta (07/07/2020) jogjaprov.go.id - Rektor UGM, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng., bertemu dengan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X guna meminta dukungan pengembangan ventilator yang sedang dilakukan. Pertemuan yang dilakukan di Gedhong WIlis, Komplek Kepatihan, Yogyakarta pada Selasa (07/07) ini juga dihadiri tim periset.

“Kami beraudiensi kali ini terkait dengan ventilator yang dikembangkan oleh UGM bersama mitra industri kami, yakni PT. YPTI. Saat ini UGM tengah mengembangkan dua jenis ventilator, yakni ventilator khusus ICU dan yang bukan ICU,” ungkap Panut usai pertemuan.

Panut mengatakan, selain memperkenalkan produk hasil karya anak bangsa yang akan sangat bermanfaat di tengah pandemi CoViD-19 saat ini, UGM juga memohon dukungan Sri Sultan hingga ke tahap pemanfaatan produk-produk ventilator ini nantinya.

“Untuk ventilator khusus ICU, ini merupakan yang pertama kali dikembangkan di Indonesia. Saat ini sudah sampai tahap uji di Balai Pengujian Fasilitas Kesehatan di Surabaya, setelah itu baru bisa uji klinis, yang rencanannya di RSUP Dr. Sardjito,” paparnya.

Untuk ventilator bukan ICU, Panut menuturkan, prosesnya saat ini sudah sampai tahap produksi dan sedang dalam tahap uji klinis di RSUP Dr. Sardjito. Menurut Panut, kelebihan dari produk ventilator buatan UGM ini ialah telah tersedianya teknisi alat. Teknisi ini yang nantinya akan memberikan pelayanan service pasca pembelian, dengan garansi seumur hidup.

“Dengan begitu, keberadaan alat ini jadi terjamin, karena jika ada kerusakan bisa cepat ditangani. Dengan adanya teknisi, performa alat juga bisa selalu terjaga, sehingga harapannya bisa lebih lama pemanfaatannya. Tidak seperti alat dari luar negeri yang sudah ada saat ini, ada jangka waktu pemakaiannya,” jelasnya. 

Panut pun berharap, ke depan tidak hanya ventilator saja, tapi jenis alat kesehatan lainnya karya anak bangsa, bisa dikembangkan untuk kebutuhan peralatan kesehatan di Indonesia. Karena seperti yang diketahui, saat ini masih sekitar 94% alat kesehatan yang digunakan di Indonesia merupakan peralatan impor.

Dalam kesempatan yang sama, salah satu pengembang ventilator, Malik Khidir mengatakan, target produksi massal untuk ventilator khusus ICU adalah awal Agustus 2020. Masih dibutuhkannya waktu karena penggunaan ventilator ICU, pengujian harus lama untuk benar-benar memastikan alat aman digunakan.

“Ventilator ini dikembangkan oleh anak-anak muda Yogyakarta. Alhamdulillah kami didukung UGM dan Pemda DIY untuk berkarya menghasilkan produk yang berguna bagi bangsa dan negara,” ungkap Direktur PT. Stechoq Robotika Indonesia ini.

Sementara itu, untuk ventilator non ICU, menurut Malik sata ini sudah mulai diproduksi. Di tahap awal, sudah diproduksi 10 unit dan sedang uji klinis. Namun pihaknya juga sudah menyiapkan komponen-komponen untuk memproduksi 60 unit.

Terkait harga, nantinya kedua jenis ventilator ini tidak akan semahal alat yang diimport. Karena biaya produksinya hanya sekitar 1/3 dari ventilator import yang harganya Rp700-900juta. (Rt)

HUMAS DIY