Berita Terkait


Polling

Apakah website ini membantu?

Apakah website ini membantu?

Ya: 58841 suara dari 74927 suara
79%
Tidak: 16086 suara dari 74927 suara
21%

Sekda DIY: Tiga Visi DIY Harus Bersinergi untuk Dongkrak Ekonomi Pascapandemi

08 Juli 2020 - 16:30

Yogyakarta (08/07/2020) jogjaprov.go.id – “Tiga dari visi DIY adalah pariwisata, budaya, dan pendidikan. Selama ini kita masih berjalan sendiri-sendiri dari ketiganya. Pendidikan bisa dibilang sudah cukup mencapai standar visi. DIY sudah dianggap sebagai tempat yang menyediakan pendidikan terkemuka di Asia Tenggara. Buktinya, devisa pendidikannya nomor dua di Asia Tenggara. Demikain halnya dengan pariwisata, saat ini wisatawan domestic juga sudah lebih banyak dari yang mancanegara. Bidang budaya, kita semua ada, multietnis ragamnya. Nah sekarang kita harus kolaborasikan ketiganya jadi pendongkrak pariwisata,” ujar Sekda DIY Kadarmanta Baskara Aji.

Hal tersebut disampaikan saat menyampaikan keynote speech acara BEJO (Bicara Ekonomi Jogja) Talk “Strategi Pemulihan Pariwisata New Normal DIY dan Penandatangan PKS Siwignyo 2020” di Hotel Grand Inna Garuda, Rabu (08/07) pagi. Agenda yang diinisiasi oleh Bank Indonesia ini dilakukan sebagai bentuk dukungan pemulihan perekonomian DIY akibat pandemi COVID-19. Selain dihadiri oleh Sekda DIY, turut hadir pada agenda tersebut Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Rahardjo, S.H, M.Ed, dan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Yogyakarta Hilman Trisnawan, Asisten Daerah Bidang Perekonomian DIY Drs. Tri Saktiyana, perwakilan Dinas Pendidikan DIY, ISEI DIY, GIPI DIY, serta perwakilan dari perguruan tinggi.

Lebih lanjut, Aji menuturkan bahwa Gubernur DIY telah melakukan pembicaraan dengan berbagai pelaku sektor ekonomi terkait recovery perekonomian DIY pascapandemi. “Pada prinsipnya, kita sudah siap untuk cut rupiah di DIY dengan nilai sekian milyar. Kalau momentum ini kita manfaatkan dengan penataan yang baik, maka ekonomi bisa lebih dipersiapkan. Tetapi kalau dana DIY ini tidak dipersiapkan kemanfaatannya, maka penggunaannya tidak maksimal,” jelasnya.

Di sisi lain, menurut Aji, penting bagi BI untuk berperan dan membantu mengembalikan perekonomian DIY seperti sebelum terjadinya COVID-19. Aji berujar, “Sepanjang dapat mendongkrak perekonomian masyarakat, maka itu bisa menjadi hal positif. Jika tingkat ekonomi masyarakat baik, maka tingkat kesehatan masyarakat baik dan tingkat sosialnya juga sejahtera.”

Hal lain yang disoroti oleh Aji adalah partisipasi masyarakat dalam mengelola destinasi wisata. “Selanjutnya adalah terkait komunitas setempat yang menggerakkan wisata di DIY, jumlahnya lebih banyak daripada wisata yang digerakkan oleh industri. Silakan dihitung, saya yakin akan lebih banyak wisata yang diselenggarakan oleh komunitas. DIY ini nampaknya lebih akan berkembang kalau mengoptimalkan pariwisata berbasis komunitas. Oleh karenanya, kolaborasi antar pelaku ekonomi perlu diperkuat. Kami siap membantu apabila Bapak dan Ibu sekalian membutuhkan regulasi yang bisa mendukung perwujudan hal tersebut,” tutupnya.

Seusai sambutan, dilakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Sinergi Pariwisata Ngayogyakarta (Siwignyo) antara Dinas Pariwisata DIY dan Bank Indonesia DIY sebagai dasar implementasi strategi percepatan pemulihan pariwisata DIY menuju new normal. Perjanjian ini dilakukan atas kesadaran bahwa kondisi pandemi COVID-19 membuat pemulihan pariwisata DIY tidak mudah dan membutuhkan waktu yang tidak singkat. Oleh sebab itu, dibutuhkan kolaborasi lintas instansi untuk mengakselerasi pemulihan sektor pariwisata DIY dan adaptasi menuju pariwisata DIY new normal.

Hilman mengutarakan bahwa framework program ini dibagi dalam tiga key strategies; adjustment strategy yaitu repositioning strategy menuju pariwisata new normal, acceleration strategy untuk mempercepat upaya pemulihan pariwisata, dan adaptation strategy untuk beradaptasi dan menjaga pariwisata DIY lebih sustainable.  

Bank Indonesia DIY juga telah menyusun kajian “Strategi Pemulihan Pariwisata DIY New Normal”, bekerja sama dengan Dinas Pariwisata DIY dan Pusat Studi Ekonomi dan Industri Skala Kecil, UPN Veteran. “Selain untuk menganalisis dampak pandemi COVID-19 bagi sektor pariwisata DIY, hasil kajian dimaksud juga digunakan untuk mapping preferensi wisatawan berwisata di DIY dan menyusun strategi percepatan pemulihan di masa dan pasca pandemi COVID-19,” jelas Hilman.

Di akhir seremonial pembukaan, dilaksanakan Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) alat kesehatan dalam rangka pengkondisian 7 (tujuh) destinasi wisata dan 1 glamping di DIY untuk mendukung kegiatan pariwisata new normal. “Dalam rangka percepatan smart tourism di DIY, BI DIY juga memberikan bantuan pembangunan aplikasi pariwisata DIY menuju new normal yang akan digunakan untuk reservasi online pengunjung. Informasi kepadatan pengunjung di suatu destinasi dan tracing pengunjung dalam rangka pengendalian Covid-19 dapat dipantau dengan aplikasi ini. Selain itu, melalui aplikasi ini, destinasi wisata juga didorong untuk melakukan akselerasi implementasi pembayaran non tunai,” tutup Hilman. [vin]

Humas Pemda DIY