Berita Terkait


Polling

Apakah website ini membantu?

Apakah website ini membantu?

Ya: 59641 suara dari 75913 suara
79%
Tidak: 16272 suara dari 75913 suara
21%

Pemda DIY Apresiasi Jaminan Sosial Pekerja Keagamaan

16 Oktober 2020 - 12:02

Yogyakarta (16/10/2020) jogjaprov.go.id - Kesehatan jasmani dan rohani adalah elemen dwitunggal yang tidak dapat terpisahkan dalam kehidupan. Untuk itu, Pemerintah Daerah (Pemda) DIY mengapresiasi BPJS Ketenagakerjaan DIY yang menginisiasi Forum Group Discussion Perlindungan Program Jaminan Sosial Ketenagakerjaan Bagi Pekerja Keagamaan di DIY.

Hal ini disampaikan oleh Plt Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah DIY, Tri Mulyono saat membacakan sambutan Sekretaris Daerah DIY, Kadarmanta Baskara Aji pada Jumat (16/10). Bertempat di Gedung Wisanggeni, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Tri Mulyono mengungkapkan, kesehatan menjadi modal utama bekerja untuk melayani masyarakat.

“Pemenuhan kebutuhan rohani pun harus selalu dijaga sebagaimana kebutuhan jasmani. Oleh karena itu, Pemerintah memiliki kewajiban agar dapat menjamin setiap anggota masyarakat untuk bisa memiliki kehidupan yang seimbang antara jiwa dan raganya,” paparnya.

Tri Mulyono mengatakan, FGD ini juga dapat dijadikan sebagai wujud komitmen terhadap upaya perlindungan bagi pekerja keagamaan, khususnya seluruh pekerja keagamaan di DIY. “Saya berharap diskusi ini dapat menghasilkan komitmen dari setiap lembaga/ormas/pemuka agama untuk mengikutsetakan pekerja keagamaan di jaminan sosial ketenagakerjaan,” imbuhnya.

FGD ini pun diharapkan dapat menjadi modal pembentukan database lembaga dan ormas keagamaan yang akurat, pemetaan potensi pekerja keagamaan di DIY, serta menentukan agenda rapat lanjutan membahas potensi registrasi pekerja keagamaan di BPJS Ketenagakerjaan.

Sementara itu, Kepala BPJS Ketenagakerjaan DIY, Asri Basri mengatakan, ide terkait jaminan sosial bagi pekerja keagamaan ini dicetuskannya usai melihat keberhasilan program yang sama di Sulawesi Utara dan Banjarnegara. Sebagai program yang baik, tidak ada salahnya jika program ini juga bisa dilakukan bagi pekerja keagamaan di DiY.

“Pekerja keagamaan biasanya disebut ustad, pendeta, pastor, pedanda, biksu atau istilah lainnya, tapi dalam bahasa ketenagakerjaan mereka semua tetaplah pekerja. Orang-orang yang menciptakan orang hebat ini tentu juga membutuhkan jaminan dan perlindungan. Karenanya tercetus ide pemberian jaminan sosial bagi mereka,” paparnya.

Asri menambahkan, sampai saat ini sudah cukup banyak pekerja keagamaan yang menjadi anggota BPJS Ketenagakerjaan, tapi masih banyak pula yang belum menjadi anggota. Untuk itu, perlu dipikirkan bagaimana para pekerja keagamaan ini bisa mendapat jaminan sosial. (Rt)

HUMAS DIY