Berita Terkait


Polling

Apakah website ini membantu?

Apakah website ini membantu?

Ya: 75302 suara dari 95209 suara
79%
Tidak: 19907 suara dari 95209 suara
21%

Gubernur DIY Buka Kongres Aksara Jawa I

22 Maret 2021 - 10:14

Yogyakarta (22/03/2021) jogjaprov.go.id – Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X membuka Kongres Aksara Jawa (KAJ) I yang dilaksanakan di Grand Mercure Hotel, Senin (22/03).

Kongres yang digagas oleh KPH Notonegoro ini seharusnya dilaksanakan pada Juli 2020.

dapat menaikkan minta baca-tulis Aksara Jawa. Gelaran ini sebagai bagian dari peran pemerintah daerah melalui Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) untuk ikut serta mengawal pelestarian dan pengembangan Aksara Jawa.

Sri Sultan mengatakan pada Kongres Bahasa Jawa Ke-3 di Yogyakarta tahun 2001, ditengarai Bahasa  Jawa bagaikan “kerakap tumbuh di atas batu”.

“Oleh sebab itu, Kongres Aksara Jawa Pertama ini diharapkan menaikkan minat baca-tulis Aksara Jawa,” ujar Sri Sultan dalam sambutannya.

Digitalisasi Aksara Jawa telah dilakukan selebrasi di Yogyakarta pada 5 Desember 2020. Sebelumnya pada 2013 dan 2014, telah diluncurkan pula Aplikasi Baca-Tulis Aksara Jawa Versi 1.0 dan Versi 2.0.

Sri Sultan menambahkan sampai dengan akhir 2020, aplikasi tersebut telah diunduh lebih dari 10.000-an orang peminat. Selain wajib menuliskan aksara Jawa untuk nama setiap kantor, lanjutnya, juga penggunaan busana dan bahasa Jawa di kantor-kantor Pemeritahan setiap Kamis Pahing, sekaligus menandai peringatan haul Pahlawan Nasional Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

 

Sri Sultan menjelaskan hingga saat ini, baru ada tujuh yang terdaftar di Unicode, antara lain aksara Jawa (Hânâcârâkâ) yang banyak terdapat dalam manuskrip, berupa Sêrat, Babad dan Kidung yang tersimpan di Museum Widyâ Budâyâ, Kraton. Dalam hal ini, PANDI telah bekerjasama dengan Kraton Yogyakarta dan PB NU. Faktanya, kurang dari 5% bahasa daerah di dunia bisa diakses secara online.

“Inisiatif PANDI untuk Merajutindonesia.id dalam bentuk penetapan domain name tersendiri untuk aksara-aksara Nusantara patut didukung,” ujarnya.

Dengan begitu, lanjutnya, bisa dihadirkan domain name yang mewakili Aksara Jawa yang harus terdaftar di ICANN, sebagai pengelola domain name dunia. ICANN menyetujui jika aksara itu benar-benar hidup dan punya pendukung budaya yang aktif.

Gubernur DIY mendorong penggunaan bahasa daerah agar tetap hidup, terutama di lingkungan keluarga. Guna mendukung program UNESCO tentang mother language, memang peran orangtua teramat sentral sebagai penuturnya untuk diwariskan kepada anak-turunnya.

 

“Selamat ber-kongres, dan semoga rekomendasinya mampu menggugah kebangkitan dan menjadi wahana menghidupkan Bahasa dan Aksara Jawa dalam keseharian,” ujar Sri Sultan. 

Ketua KAJ I Setyo Amrih Prasojo mengatakan hingga detik ini masyarakat yang belum mengetahui Aksara Jawa telah terdaftar untuk itu perlu dilakukan sosialisasi. KAJ I, lanjutnya, diawali dengan sarasehan tentang digitalisasi Aksara Jawa pada November 2019 dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) dihadiri perwakilan Keraton Ngayogjakarta, Kadipaten Paku Alaman dan Kadipaten Mangkunegaran serta berbagai praktisi.

Dalam kongres kali ini, Setyo menjelaskan akan dibahas mengenai tinjauan tata tulis, alih bahasa, standardisasi Aksara Jawa dan kebijakan memasyarakatkan Aksara Jawa. Ia berharap kongres dapat menghasilkan putusan strategis, pengakuan negara terhadap Aksara Jawa sehingga dapat diaplikasikan dan implementasi riil terhadap Aksara Jawa.

Dalam kesempatan tersebut, Perwakilan dari UNESCO Ming Kuok Lim menyambut baik digelarnya Kongres Aksara Jawa I.

“Sesuai dengan global campaign untuk melindungi, mendukung dan mempromosikan Bahasa,”ujarnya melalui video dukungan yang diputar dalam kongres. (in)