Berita Terkait


Polling

Apakah website ini membantu?

Apakah website ini membantu?

Ya: 64510 suara dari 82246 suara
78%
Tidak: 17736 suara dari 82246 suara
22%

Local Wisdom Jadi Basis Inovasi Pengelolaan Air DIY

06 April 2021 - 15:16

Yogyakarta (06/04/2021) jogjaprov.go.id – Integrated Water Resources Management sangat diperlukan untuk melestarikan sumberdaya air sebagai kebutuhan tidak tergantikan. Untuk itu, Pemda DIY telah melakukan langkah pro-aktif dan terarah dalam mendayagunakan sumberdaya air untuk memenuhi kebutuhan pokok. 

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengungkapkan hal demikian pada Seminar Daring Nasional lesson learned Strategi Pemda dalam Upaya Pengendalian Penyakit di Masa Pandemi covid-19, Selasa (06/04) dari Gedhong Gadri, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta.

DIY saat ini mengalami perkembangan aktivitas yang semakin padat. Pertumbuhan kawasan dan berkurangnya kawasan konservasi, serta perubahan tata guna lahan dari pertanian menjadi lahan non-pertanian mengakibatkan kebutuhan air kian meningkat, dan kawasan recharge air kian menurun,” kata Sri Sultan. Hal inilah yang menjadikan DIY membuat berbagai inovasi terkait dengan pengelolaan sumberdaya air.

Saat ini, DIY telah mengambil langkah kebijakan melalui langkah-langkah yang disesuaikan dengan kearifan lokal. Langkah-langkah ini adalah Munggah, Mundur, Madhêp Kali; Sanitasi Total Berbasis Masyarakat; Pengelolaan Limbah Domestik Terpadu Skala Pemukiman; Melestarikan Tradisi Mêrti Kali.

“Semua langkah ini bersumber dari filosofi Hamêmayu-Hayuning Bawânâ yang diderivasikan pada Rahayuning Bawânâ Kapurbâ Waskithaning Manungsâ. Bahwa keselamatan dunia hanya didasarkan pada kearifan manusianya,” kata Gubernur DIY tersebut.

Dalam upaya pengendalian pandemi Covid-19 saat ini,  program “Kaliné Rêsik, Kotané Apik, Uripé Bêcik” (sungainya bersih beserta keberadaan kota dan kehidupan warganya baik), di pinggir sungai (girli) telah dikembangkan menjadi obyek wisata. Misalnya Pasar Kebon Empring, Taman Nggirli, Tempuran Kali Opak, Setren Opak, Gerbang Banyu Langit dan Watu Kapal di Kecamatan Piyungan. Selain itu, ada beberapa SPAM yang punya Triple-Fungsi, sumber air minum, irigasi, dan pariwisata.

Sri Sultan menambahkan, keterlibatan masyarakat dalam pengelolaannya perlu terus ditingkatkan, agar masyarakat lebih merasa memiliki. Jika sudah demikian, maka selanjutnya masyarakat selanjutnya bisa merawat dan melestarikannya. Pemerintah dan masyarakat harus memegang teguh lima dimensi pengelolaan sumberdaya air yaitu konservasi, pendayagunaan, pengendalian daya rusak, sistem informasi, dan pemberdayaan terhadap pemenuhan kebutuhan air.

“Pada situasi pandemi Covid-19 ini, semua pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya sungai itu juga harus menerapkan Protokol Kesehatan yang berbasis CHSE: Cleanliness, Health, Safety, dan Environment Sustainability. Pemda DIY bersama Kemenparekraf menggencarkan Protokol Kesehatan CHSE, agar secara sadar dan penuh disiplin diimplementasikan oleh badan usaha dan masyarakat,” papar Sri Sultan.

Menurut Sri Sultan, program ini bertujuan agar pemerintah dapat menciptakan ruang yang aman dan nyaman bagi masyarakat terhadap penularan Covid-19. Pemberian sertifikasi CHSE bagi para pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif menjadi bukti bahwa pelaku usaha telah memiliki, menerapkan, hingga meningkatkan Protokol Kesehatan di usahanya masing-masing. Selain itu, wisatawan dan masyarakat pun dapat merasa terjamin dengan pemenuhan standar Protokol Kesehatan CHSE.

Selain itu, untuk mewujudkan Kesehatan Lingkungan adalah dengan membangun mewujudkan STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) yang terdiri dari atas gerakan Stop BAB Sembarangan, Cuci Tangan Pakai Sabun dengan Air Mengalir, Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga (PAM-RT), Pengelolaan Sampah Rumah Tangga, dan Pengelolaan Limbah Cair Rumah Tangga. Hal ini dilakukan untuk mengubah perilaku higienis dan sanitasi masyarakat dengan indikator menurunnya penyakit yang berkaitan dengan sanitasi dan perilaku.

“Dalam pelaksanaan STBM tersebut di sedikitnya 438 desa yang berada di bantaran sungai melalui melalui Deklarasi Stop BAB di Kali dan Program Kotaku atau Kota Tanpa Kumuh. GERMAS mendukung pelaksanaan kesehatan masyarakat dan lingkungan. Juga penerapan indikator Kabupaten Kota Sehat (KKS) dan Konvergensi Penanggulangan Stunting dimana sanitasi memegang peranan penting,” kata Sri Sultan.

Acara yang diselenggarakan oleh Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Yogyakarta dan diikuti oleh seluruh Pemda di Indonesia. Sri Sultan pada kesempatan tersebut didampingi Kadinkes DIY, Pembajun Setyaningastutie dan Kepala Bappeda, Beny Suharsono. Acara dihadiri oleh Plt. Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI, Maxi Rein Rondonuwu. Hadir pula Kepala BBTKLPP DIY, dr. Irene Susilo. Selain itu, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dan Gubernur Sumbar Mahyeldi juga turut hadir. (uk)

Humas Pemda DIY