Berita Terkait


Polling

Apakah website ini membantu?

Apakah website ini membantu?

Ya: 72163 suara dari 91611 suara
79%
Tidak: 19448 suara dari 91611 suara
21%

Sri Sultan: Vaksinasi Minimalisir Dampak Paparan Covid-19

24 Juli 2021 - 16:31

Sleman (24/07/2021) jogjaprov.go.id – Sebagai bentuk apresiasi atas inisiatif lembaga dan institusi yang membantu akselerasi vaksinasi Covid-19 DIY, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X meninjau pelaksanaan vaksinasi yang digelar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY, Sabtu (24/07) pagi. Vaksinasi yang digelar di lantai 2 Gedung Grha Sabha Pramana UGM ini dilaksanakan selama 4 hari sejak 23-26 Juli 2021 dengan target yang divaksin sebanyak 2.000 orang. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari kegiatan vaksinasi massal yang telah dilakukan sebelumnya pada bulan Juni sampai dengan Juli 2021. Hadir mendampingi Sri Sultan yakni Rektor UGM, Prof. Panut Mulyono dan Kepala OJK DIY, Parjiman. 

Pada kesempatan tersebut, Ngarsa Dalem menyaksikan secara langsung empat tahapan proses vaksinasi dari mulai meja observasi, penyuntikan, hingga pemantauan KIPI. Ngarsa Dalem juga melakukan dialog dengan Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso yang hadir secara virtual. 

Wimboh pada agenda tersebut menyampaikan ungkapan terima kasih atas perkenan Ngarsa Dalem hadir secara langsung di lokasi. Wimboh berharap, di kemudian hari akan semakin banyak institusi atau lembaga yang melakukan akselerasi program vaksinasi mengingat kasus kematian di DIY tergolong tinggi. “Ini akan terus kita lakukan agar masyarakat memiliki kesempatan lebih cepat untuk divaksin sehingga membantu menciptakan herd imunity di wilayah DIY,” katanya.

Terkait dengan pernyataan Wimboh, Sri Sultan juga merasa sependapat. Menurut Sri Sultan, vaksinasi adalah sebuah upaya untuk menurunkan atau meminimalisir dampak yang ditimbulkan apabila seseorang terpapar Covid-19. Untuk itu, program vaksinasi harus terus diupayakan agar gejala yang timbul pada seseorang yang terpapar Covid-19 dapat ditekan. “Salah satu cara untuk mengurangi korban yang meninggal akibat Covid 19 adalah vaksinasi, sehingga kita percepat pelaksanaannya. Masyarakat DIY saat ini lebih memilih melakukan isolasi mandiri daripada tinggal di shelter. Resikonya terlalu besar. Angka kematian akibat isolasi mandiri di Jogja paling tinggi sehingga kami berupaya mengurangi itu. Kami juga akan melakukan campaign agar masyarakat yang saat ini isolasi mandiri mau pindah ke shelter," jelas Sri Sultan. 

Di sisi lain, Sri Sultan juga mengapresiasi inisiasi UGM yang menyediakan fasilitas karantina untuk pasien Covid-19. Hal tersebut disampaikan secara langsung kepada Rektor UGM, Prof. Panut Mulyono, M.Eng, D.Eng. Shelter ini tak hanya dapat diakses bagi civitas academica UGM saja melainkan juga masyarakat. 

Sementara, ditemui seusai agenda tinjauan, Panut Mulyono, juga menyampaikan apresiasi atas inisiatif OJK untuk menyelenggarakan program vaksinasi. “Pada kesempatan ini, OJK juga membuka kesempatan bagi civitas academica yang belum mendapatkan jatah vaksinasi untuk dapat berpartisipasi. Kolaborasi ini juga dibantu Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM, Gadjah Mada Medical Center, dan Dinas Kesehatan Sleman. Targetnya ada 2.000 mahasiswa yang divaksin namun sepertinya akan ada perkembangan untuk menambah jatah vaksinnya sehingga bisa bertambah,” ujar Panut.

Terlebih lagi, terkait shelter, Panut melanjutkan bahwa UGM akan senantiasa berupaya untuk menambah shelter-shelter yang dapat difungsikan sebagai fasilitas karantina pasien Covid-19. “Untuk saat ini shelter yang telah beroperasi yakni University Club UGM, Wisma Kagama, dan Asrama Dharmaputera Baciro,” jelasnya.

Ke depan, Panut mengatakan bahwa UGM juga akan memfungsikan beberapa gedung yang digunakan sebagai karantina yakni Asrama Dharmaputera Karanggayam. Tiga bangunan lain diantaranya adalah Asrama PIKAT, Wanagama, dan Asrama di Bayat, Klaten. Ketiga bangunan tersebut telah ditinjau oleh Dinas Kesehatan DIY namun belum secara resmi difungsikan sebagai shelter. “Satu gedung lagi yang kini difungsikan sebagai shelter adalah Mardliyyah Islamic Center UGM, namun diprioritaskan untuk menopang Sardjito (RSUP) karena letaknya berdekatan. Fungsinya adalah sebagai shelter isolasi pasien dan tempat tinggal sementara bagi tenaga kesehatan yang membutuhkan,” tukas mantan Dekan Fakultas Teknik UGM itu.

Di sisi lain, Kepala OJK DIY, Parjiman menyampaikan bahwa OJK telah berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan terkait vaksinasi untuk sektor jasa keuangan. Sampai saat ini, OJK telah memfasilitasi vaksinasi kepada 10.459 orang di DIY atau sebesar 49% dari kuota yang diberikan yaitu sejumlah 21.293. “Kami terus berupaya memfasilitasi kegiatan vaksinasi Covid-19 dengan melibatkan sektor jasa keuangan khususnya di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta mengingat kecepatan dan keberhasilan vaksinasi Covid 19 akan menentukan percepatan pemulihan ekonomi nasional sejalan dengan terbentuknya herd imunity dan terbukanya mobilitas masyarakat," tutup Parjiman.

Adapun program vaksinasi massal ini merupakan sinergi antara OJK dengan Bank Indonesia, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk, PT Bank Mandiri (Persero), Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk, PT Bank Central Asia, Tbk, PT Bank CIMB Niaga, Tbk, Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan Daerah Istimewa Yogyakarta (FKIJK DIY) serta Universitas Gadjah Mada (UGM) dan RSA UGM. Vaksinasi diberikan kepada 8.000 orang penerima vaksin yang terdiri dari 6.000 orang karyawan dan nasabah industri jasa keuangan serta 2.000 orang mahasiswa UGM. [vin]

HUMAS DIY