Berita Terkait


Polling

Apakah website ini membantu?

Apakah website ini membantu?

Ya: 72163 suara dari 91611 suara
79%
Tidak: 19448 suara dari 91611 suara
21%

Pemda DIY Rekrut 100 Satgas untuk Pendamping Isoman

26 Juli 2021 - 17:20

Yogyakarta (26/07/2021) Jogjaprov.go.id – Koordinator PPKM se Jawa-Bali, Menkomarivest Luhut Binsar Pandjaitan menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) dengan Gubernur DIY, Walikota Solo, Gubernur Jateng dan anggota Forkopimda DIY-SOLO serta Bupati/Walikota Se-DIY dan Solo Raya pada Rabu (26/07) secara daring melalui zoom meeting. Rakor kali ini membahas perihal penanganan khusus untuk Wilayah DIY dan Solo Raya terkait angka mobilitas dan angka kematian yang masih cukup tinggi.

Rakor ini dihadiri oleh  Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, yang didampingi oleh Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X, dan Sekda DIY Kadarmanta Baskara Aji, beserta pejabat terkait di Gedung Pracimosono, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta.

Gubernur DIY melaporkan kondisi terkini Daerah Istimewa Yogyakarta, bahwa posisi di DIY masih sangat fluktuatif. Angka kasus positif di Yogya setiap saat berubah, satu saat bisa turun namun kemudian naik. Hal ini yang menyebabkan angka meninggal kasus positif Covid-19 di Yogya masih tinggi. Pemerintah DIY berupaya dan berharap mampu mengurangi tingginya angka ini.

Di Yogyakarta ada sekitar 28.993 orang yang tinggal di rumah untuk isolasi mandiri (isoman). Pemerintah DIY mencari cara untuk mengurangi banyaknya kasus meninggal terutama yang isoman dengan membentuk satgas khusus. Satgas ini terdiri dari dokter dan perawat yang berjumlah sekitar seratus orang nakes untuk melakukan pemeriksaan dan pendampingan kepada warga isoman yang daftarnya sudah dipersiapkan oleh Kabupaten/Kota di DIY.

Pemeriksaan dan pendampingan kepada warga isoman dilakukan oleh satgas dengan cara berkeliling dari rumah ke rumah di bawah koordinasi Danrem Pamungkas 072 bersama petugas Puskesmas, Babinsa dan Babinkamtibnas. Sri Sultan berharap, semoga dengan adanya kecepatan ini mampu mengurangi tingginya angka kematian.

Selain membentuk satgas khusus bagi isoman, Pemda DIY juga masih akan tetap melakukan penutupan/penyekatan jalan. Dengan menerapkan buka tutup jalan pada jam–jam tertentu, pemerintah berharap supaya para pedagang dan PKL masih bisa mencari nafkah dengan cara berjualan. Penutupan dilakukan bertujuan untuk mengurangi mobilitas di jalan.

 

“Sehingga mungkin hanya dua-tiga hari jalan itu ditutup nanti pindah ditempat lain, semoga dengan kondisi yang sedang dicoba diterapkan pemerintah ini, masyarakat bisa lebih merasa nyaman,” ungkap Sri Sultan. Semoga suasana dengan kebijakan yang baru ini memberikan nuansa keseimbangan. Sri Sultan juga menyampaikan ucapan terimaksih kepada masyarakat Yogya yang telah melaksanakan ketentuan PPKM ini dengan baik, khususnya dalam hal mobilitas masyarakat di waktu malam yang sudah relatif sudah turun.

Tak hanya itu, pemerintah juga sudah mendesign berupa bantuan bagi warga yang berdampak pandemi (PKL, tenaga kerja yang tinggal di rumah) melalui koperasi untuk disalurkan kepada anggotanya. Dengan koperasi dan sebagainya pendataan akan lebih cepat. 

“Ada 93 koperasi yag bisa dibantu oleh pemerintah baik seperti kaki lima, di pasar, dan itu sudah tersosialisasi pada mereka, dan ternyara mereka justru tertarik itu dibanding dengan Bantuan Langsung Tunai (BLT), akhirnya itu menjadi tambahan modal bagi mereka dalam mengembangkan usahanya,” jelas Sri Sultan.

Ditemui seusai acara di Gedung Pracimosono, Sekda DIY Kadarmanta Baskara Aji, berpesan bahwa, “Bagi warga yang mempunyai gejala, yang sekiranya memerlukan isolasi terpusat lebih baik untuk tidak melakukan isolasi mandiri di rumah tetapi pindah ke tempat isolasi terpusat,” kata Aji. Hal ini dengan pertimbangan, bahwa di tempat isolasi terpusat kebutuhan makanan dan vitamin akan tercukupi, selain itu juga untuk menghindari penularan pada anggota keluarga yang ada di rumah.

Aji juga mengimbau agar dilakukan sosialisasi kepada masyarakat, bilamana ada warga yang meninggal karena Covid-19 yang melakukan isoman di rumah, maka yang meninggal tersebut harus diperlakukan sama dengan pasien Covid-19 yang meninggal di rumah sakit saat mengurus pemulasaraannya, supaya tidak menimbulkan klaster baru. (fk)

HUMAS DIY