Berita Terkait


Polling

Apakah website ini membantu?

Apakah website ini membantu?

Ya: 75714 suara dari 95710 suara
79%
Tidak: 19996 suara dari 95710 suara
21%

JIBB 2021 : Ajang Unjuk Karya Perancang Muda DIY

07 Oktober 2021 - 06:06

Yogyakarta (06/10/2021) jogjaprov.go.id – Karya perancang-perancang milenial DIY perlu lebih ditampilkan pada publik. Hal ini disampaikan oleh GKBRAy. A. Paku Alam, Wakil Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) DIY, saat menghadiri gelaran Jogja International Batik Biennale (JIBB) 2021  di Galeria Mall, Jl. Jend. Sudirman 99-101, Yogyakarta, pada Rabu (06/10). Kegiatan ini dilaksanakan dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

 

Gusti Putri menyatakan bahwa JIBB merupakan kegiatan yang bertujuan untuk memperkenalkan karya perancang-perancang muda di DIY. Beliau juga menyebutkan rancangan desainer muda tidak kalah dengan rancangan desainer yang lebih senior.  “Perancang-perancang milenial yang ada di Yogyakarta kita tampilkan, supaya kita kenal bahwa di Yogyakarta itu tidak hanya perancang-perancang senior saja tapi juga perancang junior. Luar biasa sekali kiprah mereka,” ungkapnya.

Menurutnya desainer-desainer muda DIY tidak terlalu dikenal, namun memiliki karya yang luar biasa serta berjaya di dunia maya melalui media sosial. Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia perlu terus melakukan regenerasi agar batik semakin mendunia. Gusti Putri menyampaikan, “Regenerasi untuk generasi muda, generasi milenial harus tahu batik. Kalau tidak tahu maka tidak sayang.” Selain regenerasi, konsistensi juga dianggap penting sebagai salah satu fondasi untuk melestarikan dan mengembangkan batik Yogyakarta.

“Harapan saya semoga perancang muda selalu melakukan kegiatan-kegiatan untuk memperluas pengetahuan mereka, juga menjadikan mereka tidak hanya menasional tetapi juga mendunia,” terang Gusti Putri.

Lia Mustafa, anggota Komite Pengembangan UKM Dekranasda DIY yang sekaligus menangani bidang fashion JIBB 2021 mengungkapkan bahwa tema yang diangkat pada Festival JIBB kali ini adalah “Borderless Batik”. Menurutnya “Borderless Batik” adalah tidak adanya batas baik kota maupun negara dalam dunia fashion batik serta tidak adanya batasan umur. Nantinya dalam rangkaian kegiatan JIBB 2021, para senior dan asosiasi desainer akan membatik bersama dan menampilkannya untuk disaksikan oleh banyak negara.

Selanjutnya, Lia Mustafa mengungkapkan harapannya bagi anak-anak muda yang telah berkarya dalam bidang batik, yang telah ditampilkan pada kesempatan tersebut agar dapat menjadi inspirasi bagi kaum milenial.

“Kesempatan kali ini, saya bersama tim ingin sekali menampilkan karya-karya anak muda yang kami pantau, mereka pantas untuk ditampilkan pada hari ini. Sehingga dapat dijadikan inspirasi bagi anak-anak muda, khusunya milenial baik di Kota Yogyakarta maupun dunia internasional. Karena, mereka memiliki talent yang cukup tinggi, bukan hanya dalam meng-create batik saja, akan tetapi juga cara dalam mempromosikan batik sampai mancanegara,” ungkapnya.

Lia berharap bagi para milenial agar lebih memahami proses, filosofi, serta makna dari macam-macam batik. “Salah satu harapannya adalah bagaimana batik ini lebih bisa membumi, yaitu bukan saja hanya memiliki, tetapi dapat lebih dimengerti mengenai proses, kemudian sampai ke hati, filosofi, serta makna dari batik itu sendiri. Karena batik itu memiliki jiwa yang besar dan harus kita ketahui,” pesannya.

Tazbir Abdullah, Wakil Ketua III Dekranasda DIY, menambahkan bahwa JIBB diselenggarakan setiap 2 tahun sekali dalam rangka Yogyakarta mendapat predikat sebagai Kota Batik Dunia. Selain tidak adanya batasan, tema borderless juga ditujukan untuk para milenial agar dapat terus melestarikan batik. Ia juga berterima kasih kepada Galeria Mall, Yogyakarta yang sudah menerima dan mendukung acara Fashion Show JIBB.

“Mudah-mudahan inisiatif ini dapat menambah semangat kita untuk terus memajukan batik Yogyakarta ke dunia. Melalui batik, kita menduniakan Jogja,” tutupnya. (sf/fm)

Humas Pemda DIY